BPKP, Media Pembelajaran Calistung Bagi Anak Papua

0
81

BERITA JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat bekerja sama dalam mengembangkan buku paket kontekstual Papua (BPKP). Buku ini merupakan media pembelajaran untuk digunakan siswa kelas satu sampai dengan tiga SD dalam belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

BPKP ini disusun sesuai dengan kurikulum nasional Indonesia dan telah direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua untuk digunakan di seluruh Papua. Buku ini dikembangkan dengan materi yang terperinci, dan lengkap dengan penyesuaian kondisi di Papua. Buku ini menjadi pendahuluan bagi siswa di Papua sampai mereka mahir calistung sehingga dapat meneruskan pembelajaran dengan menggunakan buku paket nasional.

Kerja sama kedua negara ini diimplementasikan bersama pemerintah daerah Provinsi Papua. Ada dua lembaga lokal Papua akan memberikan pelatihan, dan pendampingan dengan menyalurkan BPKP ke sekolah-sekolah, dan melatih guru untuk mengajar dengan BPKP. Kedua lembaga masyarakat Papua itu adalah Yayasan Kristen Wamena (YKW), dan Yayasan Sosial untuk Masyarakat Terpencil (Yasumat).

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayawijaya Murjono Murib menyambut baik program kerja sama tersebut di Papua. Menurutnya, program ini sejalan dengan program Dinas Pendidikan dan Pengajaran yaitu memperbaiki pola pembelajaran di SD, terutama kemampuan calistung. “Kurangnya keterampilan guru dalam mengajar, dan jumlah guru yang mangkir adalah hambatan terbesar kami. Sehingga, dengan adanya program ini dapat membantu peningkatan kapasitas mengajar guru dan murid belajar dengan lebih baik di kelas,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Provinsi Papua, baru sebanyak tujuh siswa dari 240 siswa yang berada di kelas tiga SD, Kabupaten Yahukimo, Papua, yang sudah lancar membaca. Hal ini disebabkan berbagai faktor diantaranya kondisi kabupaten yang berada di wilayah terpencil, dan tertinggal.

Tidak hanya itu, di wilayah tersebut juga terdapat siswa yang tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Tingkat kesejahteraan hidup rendah pun disebut menjadi faktor kendala siswa belum mahir calistung. Disinilah sangat perlu kehadiran buku pelajaran yang sesuai dengan konteks, dan kebutuhan daerah, karena buku yang digunakan pada tingkat nasional lebih cocok dengan perkembangan anak di kota besar. Demikian hasil pengamatan lembaga masyarakat Papua, Yayasan Sosial untuk Masyarakat Terpencil (YASUMAT).

Sebanyak 45 sekolah di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan pembelajaran untuk guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan siswa dalam menghadapi tantangan utama dalam meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. (Aline Rogeleonick)