Toleransi Pengusaha Warteg di Kota Bekasi

0
87
Warteg Ibu Asih

BERITA BEKASI – Berdasarkan Bloomberg Dollar Index pada, Jumat (13/3/2015), rupiah dibuka melemah hingga 0,02% ke Rp13.185/US$. Sementara pada, Kamis (12/3), rupiah sempat menguat 0,07% ke Rp13.183/US$.

Pantauan Beritaekspres.com, terhadap kondisi rupiah yang semakin terpuruk terhadap dollar US dalam dua minggu belakangan ini ditambah dengan kenaikan harga beberapa barang kebutuhan pokok seperti beras, maka Beritaekspres.com, mencoba mengunjungi daerah Kayu Ringin, Kota Bekasi sebuah kawasan yang menyajikan puluhan tempat makan bagi karyawan.

Target kunjungan mengarah kepada usaha warung makan atau Warung Tegal yang biasa disebut dengan istilah “Warteg”. Karena pedagang jenis usaha kecil (Mickro) ini termasuk sebagai alat ukur bagi daya beli masyarakat kecil yang tinggal di Kota Besar.  

Usai waktu sholat Jumat, Beritaekspres.com, mendatangi salah satu Warteg Hikmah Tegal yang lokasinya berada di Jalan utama Kayu Ringin.  Namun, agak jauh dari Jalan Raya KH. Noer Ali, Kalimalang, Kota Bekasi.

Dalam ruang berukuran sekitar 3m x 8m itu, Ibu Asih sang pedagang terlihat sedang melayani empat tamunya yang sebagian sedang membayar makanan yang sudah dibeli dan sebagian lagi sedang menunggu dilayani.

Jumlah masakan dalam warteg ini sangat banyak disajikan dalam wadah khusus untuk menempatkan sekitar 30 jenis lauk dan sayur. Setelah selesai melayani pelanggan, Ibu Asih mengambil beberapa lembar bon belanjanya untuk ditunjukkan kepada Beritaekspres.com, Ibu Asih menuturkan bahwa harga beras sudah turun walau belum normal. “Saya biasa belanja di Pasar Baru, Bekasi dan terakhir beli beras sekitar dua hari lalu ukuran karung yang isinya 50 Kg jenis pulen dari Karawang,” katanya.

Kemarin itu sambungnya, harganya sudah turun dari Rp 600.000 jadi Rp 560.000 padahal sebelumnya Rp 540.000/karung. Harga beras bisa beda-beda tergantung merk, tapi beras yang saya beli selalu sama merknya. Beda harga beras setiap merk sekitar Rp 2.000 sampai Rp 5.000/ liter. Harga telur juga sudah turun dari Rp 20.000 jadi Rp 18.000/kg. Cuma harga sayuran yang sering naik turun, sekarang sayuran yang masih mahal itu buncis bisa Rp 10.000/kg, kalau harga tomat sudah turun jadi Rp 7.000/kg, kentang juga turun harganya dari Rp10.000 jadi Rp 9.000/kg, harga cabai dari Rp 20.000 sudah turun jadi Rp 15.0000/kg. Kalau harga ayam masih Rp 35.000/ ekor,” terangnya.

Ketika ditanyakan tentang harga ikan di Pasar Baru di Kota Bekasi, Ibu Asih menuturkan bahwa harga kerang laut masih tinggi yaitu Rp 30.000/Kg. Sementara harga ikan teri jengki ukuran sedang, sudah turun seribu rupiah dari Rp 15.000 jadi Rp 14.000/ seperempat kilogram, dan harga ikan kembung juga masih naik turun berkisar Rp 35.000 hingga Rp 40.000/ Kg.

Bangunan yang ditempati oleh Ibu Asih untuk menjadi ruang usaha warteg itu masih dalam status sewa yang dibayarkan bersama adik dan kakaknya dengan harga Rp.10.000.000/ tahun. 

Masih di daerah yang sama, hanya sekitar 7m dari Jalan Raya KH. Noer Ali, tepatnya di lokasi Terminal Kayu Ringin  terdapat Warteg Bagus yang dikelola oleh Ibu Maryati, ukuran bangunannya lebih besar dibanding bangunan yang disewa oleh Ibu Asih.

Dalam perbincangan Beritaekspres.com dengan Ibu Maryati, dirinya menuturkan bahwa dia bersama anak-anaknya memiliki tiga warteg,  dua diantaranya berada dalam lokasi yang sama dekat terminal. Sementara satu lainnya berada di Stasiun Bulan-bulan, Bekasi. Ibu Maryati tidak tahu tentang harga-harga bahan pokok di pasar karena semua keperluan belanja harian untuk tiga wartegnya itu selalu dipesan langsung oleh putranya pada supplier langganan mereka.

Namun tentang beras, Ibu Maryati tahu dari putranya bahwa beras yang dibeli seharga Rp 530.000/ karung, jenis pulen dari Karawang. Walau sudah memiliki usaha tiga warteg, Ibu Maryati mengakui bahwa semua bangunan masih status menyewa dengan harga  Rp 50.000.000 / tahun.

Melalui perbincangan Beritaekspres.com dengan Ibu Asih dan Ibu Maryati pada tempat yang berbeda, ditemukan garis merah yang cukup mendasar bagi usaha sejenis bahwa kenaikan harga bahan pokok, lauk pauk dan sayuran masih bisa ditoleransi dengan menyiasati porsi pesanan pada langganan mereka.

Namun keduanya berharap bahwa pajak yang akan dikenakan pemerintah untuk usaha penjualan makanan tidaklah terlalu besar, dikhawatirkan efeknya justru akan membangun persaingan yang tidak sehat diantara  pedagang makanan yang jumlahnya sudah terlalu banyak di daerah Kayu Ringin, Kota Bekasi. (Gabby Sembiring)