Laskar Pembela Islam: Kompleksitas Masalah Sosial Marak, Pemkot Bekasi Tutup Mata

0
359

BERITA BEKASI – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dinilai menutup mata dan terkesan adanya pembiaran terkait menjamurnya kompleksitas persoalan sosial. Hal tersebut dapat dilihat dengan bertambahnya warung remang-remang serta peredaran minuman keras (Miras) oplosan yang kerap memakan korban jiwa.

“Kami Laskar Pembela Islam (LPI) Bekasi Raya mendesak Pemkot Bekasi untuk segera menutup secara permanen, puluhan warung remang-remang (Warem) di wilayah Kranggan Jatisampurna,”kata Wali Laskar Pembela Islam Bekasi Raya, Ustadz Cecep M. Hudzaifah kepada Beritaekspres.com, Sabtu (21/3/2015).

Dikatakan Cecep, Lokasi tersebut hingga saat ini masih beroperasi, sayangnya Pemerintah kota Bekasi hanya menyegel tempat tersebut, tanpa ada tindakan yang kongkrit. “Untuk dapat diketahui bersama warung remang-remang tersebut menyediakan minuman keras dan perempuan malam hal ini yang masih meresahkan masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, pembiaran warung Remang – remang telah melahirkan Kemaksiatan serta kejahatan – kejahatan baru seperti Marak Pedagang Miras dan minuman alkohol oplosan, Menjamurnya rumah – rumah kontrakan mesum, Panti pijat panggilan.

“Di tempat-tempat seperti warung remang-remang ini lah salah satu  sumber masalah sosial masyarakat, di Kranggan Kecamatan Jatisampurna saja ada 3 titik yang memproduksi Miras Oplosan ditengah lingkungan masyarakat padat penduduk dan diantara ke tiga tempat tersebut terdapat gudang penyimpanan Miras ilegal,” terangnya.

Ironisnya lanjut Cecep, gudang tersebut tidak jauh dari Pospol Jatisampurna yang hanya berjarak sekitar 100 meter dan berada dalam wilayah komplek perumahan Kranggan Permai Kelurahan Jatisampurna. “Belum lagi beberapa titik rumah Produksi Miras oplosan yang memproduksi hingga berdrum-drum di lapangan Jamros Jatisampurna  dimana aparat keamanan dan Pemkot Bekasi seakan diam dan membiarkan, Apakah memang sengaja dibiarkan? padahal sudah banyak korban berjatuhan akibat dari Miras oplosan tersebut,” katanya.

Dikemukakannya peredaran oplosan, atau minuman yang dicampur dengan metanol (elemen alkohol yang digunakan untuk bahan bakar dan ditemui di bensin atau spiritus) sudah berada di titik yang sangat mengkhawatirkan. Jumlah korban yang mengalami kematian atau cacat permanan (hasil riset Badan Infestigasi Front DPW FPI Bekasi Raya tentang miras oplosan 2014) lebih banyak daripada korban Narkoba, dan efeknya langsung dirasakan seketika (kurang dari 24 jam langsung cacat permanen/meninggal).

“Dalam setiap insiden tidak kurang menewaskan 3-17 orang per insiden dengan estimasi korban 18.000 jiwa pertahun diberbagai wilayah di Indonesia,(data Genam/Fahira Idris) sehingga permasalahan ini tidak lagi disebut permasalahan lokal dan parsial,” tegasnya.

Cecep menilai, oplosan beredar karena tidak fahamnya masyarakat atas bahayanya minuman  alkohol oplosan, kemudian untuk diketahui bersama bahan dasar metanol seperti spiritus atau bensin yang digunakan untuk meracik minuman alkohol oplosan  dapat dengan mudah diperoleh secara murah, sehingga pengoplos bisa mendapatkan keuntungan yang besar.

Masih kata Cecep, peraturan di Indonesia belum cukup untuk mengatasi peredaran dan penyalahgunaan oplosan meskipun dalam hal Kepolisian sudah secara aktif melakukan penindakan terhadap pengoplos. Namun langkah ini belum cukup untuk menghadapi situasi darurat oplosan seperti sekarang ini.

Cecep menambahkan, diperlukan kepemimpinan nasional dalam hal ini pemerintah secara terintegrasi hingga ditingkat pemerintahan daerah yang mengkoordinasi tindakan pencegahan (preventif) dan tindakan penindakan (represif) dan melibatkan berbagai pihak, baik antar instansi Pemerintah (Kepolisian, Kementerian Perdagangan, BPOM, Pemerintah Daerah, dan lainnya) maupun elemen masyarakat tentang bahaya minuman alkohol oplosan yang sudah banyak merenggut korban jiwa,” tutupnya. (Yayah)