Nasib Malang Tati Suhartati, Seorang Guru Tenaga Honorer di SDN Kota Bekasi

0
75
Tati Suhartati

BERITA BEKASI – Tati Suhartati kelahiran Bekasi, 08 Juni 1981 ini mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Pasar Kota Bekasi (SDN Margahayu) lulus tahun 1993, SMP Negeri 03 lulus tahun 1996 dan SMA Swasta Muhajirin lulus tahun 1999.

Lulus SMA Tati Suhartati mulai masuk keduania kerja niat untuk bisa membantu keluarganya dengan mengadu nasib bekerja dibeberapa perusahaan diantaranya, PT. Cemicon, PT. Higashi dan PT. NOK. Terakhir, Tati mendapatkan prestasi terbaikya di Citi Bank sebagai karyawan terbaik dan sempat diberangkatkan ke Yogyakarta guna mengikuti study banding.

Demi ingin melanjutkan pendidikannya diperguruan tinggi, Tati mengundurkan diri dari Citi Bank dimana tempatnya bekerja untuk melanjutkan pendidikannya du Universitas Bani Saleh beralamat di Jalan Mayor Haibuan, Margahayu Bekasi Timur tahun 2002 hingga 2006.

Lulus dari Universitas Bani Saleh, Tati kemudian melanjutkan lagi kuliah di Universitas Unindra sampai tahun 2012. Selama perjalanannya Tati juga sambil nyambi menjadi tenaga pendidik sebagai guru honorer. Tahun 2013, Tati menikah dengan Budi Antoro asal Yogyakarta yang tinggal di Kota Bekasi.

Tahun 2014 ada program kesempatan untuk Tati menjadi PNS melalui program Kategori Dua (K2). Tati pun tidak melewatkan kesempatan itu untuk ikut pemberkasan agar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Nasib baik berpihak kepada Tati, namanya masuk pada daftar 838 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang diumumkan oleh Badan Kepegawaian Nasional (BKN).

Keinginan kuatnya untuk menjadi seorang PNS, Tati selalu menjalan ibadah puasa selama proses K2 berjalan, meskipun dirinya tengah hamil tua anak pertamanya. Namun, malang nasib Tati, harapan dan perjuangannya untuk menjadi PNS kandas karena Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tidak memverifikasi yang pada akhirnya nasib Tati mengantung dan kandas untuk menjadi CPNS di Kota Bekasi.

Tati dalam keluarganya dikenal sebagai pekerja keras dan penuh tanggungjawab selalu bekerja berangkat pagi pulang malam setiap harinya. Sejak kandasnya harapan Tati untuk menjadi CPNS, Tati mulai sering melamun dan banyak pikiran seperti sudah tidak ada lagi semangat kerja dan harapan, karena Tati selama ini merasa pengabdiannya tidak mendapatkan penghargaan.

Guru honorer yang mengajar di SDN Bekasi Jaya 7 Kota Bekasi yang bergaji sebesar Rp350 ribu perbulan ini, terus melamun memikirkan nasibnya yang pada akhirnya mulai sering sakit dan terakhir, Tati tergeletak tidak berdaya menghadapi maut terkena penyakit Auto Imun atau Syndrom Jogren yang saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusomo (RSCM) Jakarta. (Bersambung……red)