Sosok Pahlawan Raden Ajeng Kartini dan Pendidikan Perempuan Indonesia

0
576
R.A Kartini

Perempuan dan laki-laki itu, saling memerdekakan, saling memajukan, sanding bersama lahirkan adil

SATU abad lebih, Sosok Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pahlawan perempuan pribumi yang mempunyai penilaian tinggi terhadap persoalan bangsa, terutama soal pendidikan dan perempuan. Kartini muncul sebagai pendobrak budaya feodalisme Jawa kala itu. Dalam sejarah hidupnya, kartini pernah merasa sangat miris terhadap adik-adiknya yang harus berjalan membungkuk di depannya. Sebagai seorang perempuan yang memberontak terhadap sistem feodalisme, Kartini merasa bahwa hal itu sangat tidak manusiawi.

Semua manusia mempunyai kedudukan yang sama, masing-masing diantaranya mempunyai hak yang sama untuk saling mengasihi dan menyayangi tanpa ada perbedaan kedudukan dalam keluarga sebagai yang di tuakan, yang kemudian memunculkan batasan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam diskursus soal keadilan, terutama terhadap perempuan, pemikiran Kartini banyak dibentuk oleh kondisi masyarakat pada saat itu, yang sangat patrialkal. Dalam pandangan masyarakat saat itu, norma manusia yang paling benar adalah apabila dipandang dari kacamata laki-laki. Pandangan tersebut berlaku dalam segala aspek seperti, ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Kartini mengkritik budaya tersebut, sebagaimana surat yang ia tulis kepada nona Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899 (Habis Gelap Terbitlah Terang).

“Sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi ke sekolah, ke luar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat. ”

Kartini dan Pendidikan Perempuan

Kartini merupakan salah satu pejuang perempuan di Indonesia yang mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan terutama bagi kaumnya, perempuan pribumi yang masih tertindas oleh kolonialisme. Memang, pada saat Kartini belia, pendidikan di Hindia Belanda, khususnya di Jawa masih sangat diskriminatif.

Pendidikan hanya diperuntukkan kepada anak-anak Belanda dan anak-anak bangsawan pribumi, khususnya untuk mereka para lelaki. Bahkan, Kartini sendiri sebagai salah satu anak dari bangsawan Jawa hanya bisa mendapatkan pendidikan hingga usia 12 tahun saja, hanya karena dia seorang perempuan. Perempuan pribumi pada saat itu, terutama di Jawa, masih menjadi korban dari sistem feodalisme yang begitu kental.

Pada zaman itu, perempuan tidak berhak mendapat kesempatan memperoleh hak yang sama dengan kaum laki-laki. Sehingga tidak mengherankan apabila kegiatan perempuan hanya seputar dapur (memasak), Sumur (mencuci), dan kasur (melayani kebutuhan biologis suami). Pemetaan wilayah kerja semacam itu, kemudian dirangkaikan dengan tugas perempuan yaitu macak (berhias untuk memyenangkan suami), manak (melahirkan), dan masak (menyiapkan makan bagi keluarga).

Dari situ muncul ungkapan Swarga nunut neraka katut, perempuan digambarkan tidak memiliki peran sama sekali. Hal ini menunjukkan sempitnya ruang gerak dan pemikiran perempuan sehingga perempuan tidak memiliki cakrawala di luar tugas-tugas domestik. Hal ini berakibat perempuan tidak bisa mandiri dan tidak mampu berperan serta dalam lingkungannya.

Kartini mendobrak kondisi yang memprihatinkan tersebut dengan membangun sekolah khusus wanita. Selain itu, ia juga mendirikan perpustakaan bagi anak-anak perempuan di sekitarnya. Bagi kartini, pendidikan bagi perempuan adalah keharusan, pendidikan bagi kaum wanita sangatlah penting. Ia yakin, wanita yang terdidik kelak juga akan mendidik anak-anak (perempuan)-nya dengan lebih maju.

“Perempuan sebagai pendukung Peradaban! Bukannya karena perempuan yang dipandang cocok untuk tugas itu… tapi (karena dari) perempuanlah dapat dipancarkan pengaruh besar, yang berakibat sangat jauh, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan…. Dari perempuan, manusia menerima pendidikannya yang pertama-tama, di pangkuannya anak belajar merasa, berpikir, berbicara… Dan bagaimana ibu-ibu bumiputera itu dapat mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri tidak terdidik?”

Sebagai salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, Kartini tidak ketinggalan menyumbangkan pemikirannya dalam menghadapi persoalan ini. Menurutnya, dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan yang semakin komplek baik laki-laki maupun perempuan harus mempunyai bekal yakni pendidikan. Karena pemerintah tidak akan mungkin memberikan dan menyediakan segala yang dibutuhkan rakyat secara instan, tetapi pemerintah harus memberikan daya upaya agar rakyat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebagaimana dalam surat Kartini kepada nona Zeehandeler pada tanggal 12 Januari 1900 sebagai berikut:

“Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagisegala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu. Daya upaya itu ialah pengajaran.” Kartini juga berpendapat bahwa kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan harus diberikan kepada seluruh anak Indonesia, baik laki-laki-perempuan, kaya-miskin, yang tidak membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

Laki-laki dan perempuan dan seluruh anak bangsa mempunyai tanggung jawab terhadap tanah airnya, terhadap bangsanya menuju masyarakat yang adil dan makmur, tidak ada lagi ketertindasan manusia yang satu dengan lainnya, tidak ada ketertindasan bangsa satu dengan lainnya. Sebagai mana surat yang pernah ditulis Kartini pada bulan Januari 1903 :

“Memberi kesempatan kepada anak bangsa Jawa laki-laki dan perempuan untuk mencari kepandaian agar mereka mampu membawa tanah air dan bangsanya kearah perkembangan jiwa, kearah kecerdasan pikiran serta kemakmuran dan kesejahteraan .…”

Oleh : Vivin Sri Wahyuni, Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND)