M. Edi Santosa: Usia Pubertas Rentan Terhadap Penyalahguna Narkoba & Seks Bebas

0
66
M. Edi Santosa

MARAKNYA penyalahguna narkoba dikalangan remaja membuat Ketua Umum Gandakrim (Gerakan Anti Narkoba dan Kriminal) M. Edi Santosa angkat bicara. Lelaki yang kini menjadi mentor BNN asal Bekasi, mendelegasikan pengabdiannya untuk kemaslahatan umat.

Melihat perkembangan penyalahguna narkoba, banyaknya pengedar dan bandar yang ditangkap sebagai indikator bahwa peredaran gelap narkoba semakin masif. Empati yang ditunjukkan bukan tanpa tindakan. Berulangkali ia melakukan pengkaderan di beberapa sekolah di kawasan Jakarta, di antaranya SMPN 109 komplek Kodam, Jakarta Timur.

Lewat tangan dinginnya, M. Edi Santosa mampu membentuk satgas anti narkoba di sekolah tersebut. Bahkan beberapa siswa pun sempat bertandang dikediamannya, kawasan Pejuang Jaya, Medan Satria saat dirinya sakit. Tak pelak aktivitasnya pun kini sangat padat, meski sejak musibah menimpa kakinya hingga harus diamputasi.

Keterbatasan fisik tidak menjadikannya mundur perang terhadap penyalahguna narkoba. Keperduliannya teruji seiring malang melintang kiprahnya dalam melakukan penyuluhan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahguna, dan Peredaran Gelap Narkoba) di kawasan perkantoran swasta, pemerintahan, kepolisian, & instansi militer.

Tak lekang oleh waktu, hasratnya terus menyala dalam memerangi narkoba, meski kondisi fisiknya tidak seperti dulu lagi. ”Bagi saya adalah perbuatan, meski kini keterbatasan fisik, saya akan terus maju memerangi penyalahguna narkoba, masih banyak yang harus saya selamatkan generasi mudanya,” ujarya ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Senin (27/4/2015).

Melihat generasi muda mati sia-sia karena jahatnya narkoba  ia sangat miris. Meski saat ini terbilang kurang diperhitungkan di kalangan Kota Bekasi tapi sesungguhnya M. Edi Santosa adalah mentor kepercayaan BNN Jakarta. Di samping melakukan penyuluhan di tingkat local ia pun mentor dan orator nasional karena berulangkali merambah kota di Indoensia. Macan panggung aktivis anti narkoba pernah mau dijebak oleh oknum di kepolsian untuk memakai narkoba tapi ia menolok dengan tegas. Baginya perang terhadap narkoba adalah harga mati.  

Ia tampaknya sangat perduli dengan lingkunngan terlebih yang menyangkut para remaja yang menjadi tumpuhan harapan bangsa.”Ya, saya sangat prihatin dengan kondisi generasi muda kita saat ini. Oleh karena itu, saya blusukan untuk menyelamatkan generasi muda dari jahatnya narkoba. Sekali pakai kontrak mati,” katanya.

Data yang dihimpun, usia pubertas 12 tahun itu rentan sekali untuk mencoba menggunakan jenis narkotika gologan 1 ganja dan minuman beralkohol ginseng, bir, dan mix-mix. Karena mereka sudah mulai merokok. Rokok merupakan pintu gerbang dari narkoba. Kemudian anak-anak di usia pubertas ini, mulai ingin mencari jati diri dan ingin dipuji atapun diakui bahwa mereka sudah beranjak besar, tidak mau dianggap seperti anak kecil lagi.

Di rumah mulai berontak melawan kepada ibu dan bapak tidak betah di rumah, ingin selalu kumpul dengan teman-teman mereka. Tidak hanya cukup bermain di sekolah dan luar sekolah, bahkan bergaul dengan anak-anak yang usianya lebih dewasa dan umumnya sudah tidak bersekolah lagi alias putus sekolah,” terangnya.

Dari situlah kondisi rentan bisa terjadi. Di saat berangkat ke sekolah dan pada saat pulang dari sekolah. Di rumah diawasi kedua orang tuanya dan di sekolah diawasi para guru, sedang di luar rumah dan sekolah siapa yang akan mengawasi. “Ini masalah bersama yang harus dipecahkan.

Anak anak di usia pubertas tidak boleh dikerasi apalagi dipukul. Mereka harus didekati secara kejiwaan. Pendekatan dengan rasa kasih sayang bukan emosional. Pada umumnya orang tua lebih mengedepankan ego, anak bandel dan dipukul. Di sekolah juga ada guru galak, suka menghukum dan memberi sanksi bila sanksi,”jelasnya.

Dikatakan oleh pengarang puisi unik ini bahwa faktor kecanggihan era digital di mana sang anak bisa mengakses situs beraroma pornografi, banyaknya video-video yang belum layak ditonton anak-anak usia pubertas. Ini juga salah satu mengapa anak-anak itu melakukan seks bebas. Awalnya pacaran kemudian mencoba apa yang dilihat di video tersebut. Solusinya selamatkan anak anak di usia pubertas dengan melakukan pendekatan secara kejiwaan dan dapat melibatkan pakarnya. Bentuk pondasi karakter anak-anak dimulai dari usia dini (ibarat kertas putih yang belum ternoda),” pungkasnya. (Tejo Nagasakti)