Program Pembuatan Lubang Biopori: Tak Semua RW Patuh Dengan Program Pemkot Bekasi

0
82
Sulatifah

BERITA BEKASI – Pencanangan pembuatan satu Juta lubang biopori yang ditargetkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, masih terkendala dari kesadaran masyarakat itu sendiri dalam membantu program pemerintah. 56 Kelurahan mendapat target dengan masing-masing sebanyak 18 Ribu lubang biopori.

Program Pemkot Bekasi dalam pencanangan pembuatan lubang biopori terkesan jalan ditempat. Pasalnya, walaupun pihak Kelurahan secara lisan maupun tertulis melakukan himbauan kepada setiap RT/RW setempat, tak semua warga antusias untuk mengikuti program pemerintah tersebut.

Ketua RT maupun RW adalah satu-satunya pihak yang berperan ‘Mentor’ untuk menggerakan warganya. Apabila RT/RW tersebut tak mampu mengajak warganya, sudah pasti program lingkungan dari Pemerintah Kota Bekasi tersebut ¬†akan terhambat.

Kepada Beritaekspres.com, Jefri salah satu tokoh masyarakat di Kelurahan Jatirasa (Jatiasih) mengatakan, jika Ketua RT/RW tak mampu menggerakan warganya sendiri untuk melaksanakan program pemerintah, lebih baik mereka diganti. “Ketua RT/RW seharusnya dapat membantu dalam setiap program-program yang dicanangkan pemeritah dibidang lingkungan tersebut, walaupun tak banyak? kan mereka setiap triwulan sudah dapat dana insentif dari Pemkot Bekasi,” ujarnya yang juga selaku ketua FBR Jatirasa.

Selain itu, Ketua RW09 di Kelurahan Kaliabang Tengah (Bekasi Utara), yang lokasi rumahnya satu tempat dengan kantor Kelurahan juga dilapangan tak dapat menjalankan program pembuatan lubang biopori. Ketua RW tersebut juga salah satu anggota dewan baru di Kota Bekasi, bahkan dilingkungan rumahnya yang juga berada di belakang kantor Kelurahan setempat, tak terlihat ada lubang biopori dimasing-masing rumah warga sekitar.

Sementara, Lurah Sumurbatu (Bantargebang), Topik Ajimulya, mengatakan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan sangatlah diperlukan. “Kesadaran akan pentingnya terhadap lingkungan sangat penting, sebab dengan adanya itu sudah pasti lingkungan bersih dan nyaman akan cepat terwujud,” imbuhnya.

Masih kata Topik, di Sumurbatu sendiri di RW01 sudah 80 persen pembuatan lubang bioporinya dengan target yang sudah ditetapkan pada setiap RW-nya. Pencapaiannya sudah kita jadwalkan dalam kegiatan K3 setiap minggunya,” tambahnya.

Tidak hanya itu, salah satu Kelurahan yang didominasi perumahan kalangan atas di Jatikarya (Jatisampurna) pun, pihak Kelurahan setempat gencar melakukan pemahaman dan himbauan terhadap warganya untuk berpartisipasi dalam pencanangan biopori tersebut.

Lurah Jatikarya, Sulatifah, juga mengatakan terkait masih ada beberapa RW dan RT setempat yang kurang respon dan selalu banyak alasan untuk tak ikut dalam kegiatan kerja bakti untuk membuat lubang biopori diwilayah tersebut. “Kita memiliki 14 RW, sebagian besar RW tersebut berada di Kelurahan. Sebenarnya warga perumahan kalangan atas sangat sulit untuk di ajak kerja bakti, mereka selalu banyak alasan kesibukan, namun dengan begitu kita tetap jadwalkan setiap minggu untuk berkeliling lakukan K3 diwilayah setiap perumahan,” terangnya.

Lurah Topik dan Lurah Sulatifah, sama-sama mengatakan, “harapanya agar warga sadar akan pentingnya biopori untuk kelangsungan lingkungan hidup dan ekosistem itu sendiri. Semua itu tergantung RT dan RW yang menggerakkan warga untuk partisipasi dalam kegiatan K3 setiap minggunya”. (yudhi)