RS Ananda Kota Bekasi, Bantah Telantarkan Pasien Bayi Kembar Keluarga Sri Supartini Warga Rawa Bebek Bekasi

0
138

BERITA BEKASI –  Bagian Humas Rumah Sakit Ananda Kota Bekasi di Jalan Sultan Agung No. 173 Kecamatan Medan Satria, Bekasi membantah telah menelantarkan pasien bayi kembar pasangan Asbih (39) dan Sri Supartini (37) warga Jalan Hidayah RT05/RW08 Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Bekasi Barat, Jumat (15/5/2015).

“Soal biaya Rp16 Juta itu, hanya penjelasan dari pihak manajemen Rumah Sakit yang memang sudah seharusnya disampaikan kepada pihak pasien yang mau menjalankan perobatan dan perawatan,” ujar Humas RS Ananda, Joko Mulyanto kepada Beritaekspres.com, Kamis (14/5/2015) kemaren.

Joko membantah, kalau pihaknya dianggap menelantarkan pasien Sri Supartini selama berbaring diruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). “Tetap kita perhatikan dan tidak kita telantarkan seperti apa yang ramai menjadi pemberitaan. Pasien pindah itu keputusan yang diambil Asbih sendiri, bukan dari pihak Rumah Sakit Ananda,” katanya.

Dirinya menjelaskan, ketika itu pasien datang ke Rumah Sakit Ananda Pukul 09.40 WIB karena mengalami kontrasi, karena anaknya kembar dan lahir secara premature maka butuh Box Incubator untuk bayi. Sementara, di Rumah Sakit saat itu hanya ada satu. “Jadi memang Box Incubator itu hanya satu, sementara bayinya kembar,” katanya.

Memang lanjutnya, pasien sendiri sebagai peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) tapi bukan itu yang jadi masalah, tapi memang Box Inkubatornya yang tidak ada satu. “Pasien sendiri yang mengambil keputusan untuk mencari Rumah Sakit lain keluar Pukul 10.40 WIB, bukan dari kita pihak Rumah Sakit Ananda dan kejadian itukan sudah diluar Rumah Sakit Ananda,” tandasnya.11013186_828009557234370_4503556908857056544_n

Bayi Kembar
Bayi Kembar

Diberitakan sebelumnya, peristiwa tragis itu terjadi, ketika Sri Supartini, istri dari salah seorang karyawan PT. Arnott’s Indonesia yang merupakan pasien dari peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) mau melahirkan di Rumah Sakit Ananda karena mendadak mengalami kontraksi. Setelah sampai, pasien disarankan untuk melahirkan melalui operasi sesar dan perlu Box Inkubator untuk bayi.

Namun, ketika itu pasien harus membayar terlebih dahulu uang dimuka atau deposit sebesar Rp16 Juta agar bisa masuk dan segera mendapatkan pertolongan secara medis. “Padahal saya sudah bilang sebagai karyawan PT. Arnott’s Indonesia yang posisinya berdekatan dengan RS. Ananda ini,” ujar Asbih ayah dari bayi kembar tersebut kepada Beritaekspres.com, Senin (12/5/2015) lalu.

Pihak Rumah Sakit Ananda lanjut Asbih, memita dirinya untuk menghubungi terlebih dahulu HRD (Human Resource Development) PT. Arnott’s Indonesia. Berhubung hari libur (Minggu) tidak ada yang masuk kantor tidak dapat menghubungi sesuai dengan permintaan dari pihak Rumah Sakit. “Tapi saya sudah menawarkan bagaimana kalau saya membayar sebesar Rp5 Juta dulu dan nanti sore saya akan lunasi,” terangnya.

Namun sambung Asbih, pihak Rumah Sakit tidak segera memberi respon cepat atas tawarannya itu. Sementara istrinya yang dalam keadaan lemas, hanya bisa berbaring di ruang Instalasi Gawat Darurat (IDG) Rumah Sakit Ananda, sambil menunggu permohonan suaminya dapat diterima dan segera diberikan pertolongan. “Istri saya dalam kondisi lemas mau melahirkan, hanya bisa terbaring di ruang IGD, tanpa ada pertolongan sama sekali sebelum ada uang Rp16 Juta itu,” ungkapnya.

Masih kata Asbih, karena melihat keadaan dan kondisi istrinya sudah dalam keadaan lemas dan takut tidak sempat tertolong lagi ketika mau melahirkan. Akhirnya, Asbih memutuskan untuk membawa istrinya keluar dari Rumah Sakit Ananda untuk mencari Rumah Sakit lain. “Mau keluar dari RS Ananda aja, saya masih harus membayar sebesar Rp124 ribu untuk tempat tidur selama istri saya berbaring di IGD tadi,” keluhnya.

Setelah keluar dari Rumah Sakit Ananda, beberapa Rumah Sakit penuh yang pada akhirnya, Asbih membawa istrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi di Jalan Pramuka No.29. Pukul 16.00 WIB, istrinya melahirkan anak pertamanya lalu disusul selang 20 menit lahir anak ke duanya secara normal. Namun, pihak RSUD Bekasi menyampaikan kepada Asbih untuk segera mencari Box Inkubator ke Rumah Sakit lain karena di RSUD habis.

Asbih pun langsung mencari ke beberapa Rumah Sakit yang ada di Kota Bekasi, tapi tidak ada, semua terpakai hingga Pukul 21.00 WIB, Asbih belum bisa menemukan Box Inkubator untuk kedua anaknya yang baru lahir. Dalam perjalanan usahanya, Asbih dikabari bahwa anak pertamanya telah meninggal. “Dengar kabar itu, lalu saya pulang segera ke RSUD dengan perasaan shok,” kata Asbih sambil meneteskan air matanya kepada Beritaekspres.com.

Sesampainya di RSUD, pihak Rumah Sakit menyarankan Asbih mencari ke Rumah Sakit daerah Bantargebang. Namun, karena terlalu lama pada akhirnya, Pukul 03.00 WIB anak kedua Asbih kembali meninggal duni. “Jujur saya langsung lemas dan tidak banyak berkata-kata, saya berusaha sudah maksimal namun nasib berkata lain,” tutup Asbih yang sudah tidak bisa melanjutkan pembicaraannya lagi kepada Beritaekspres.com. (Indra/Agus)