Kemendikbud Umumkan Tujuh Provinsi dengan Indeks Integritas Tertinggi dalam UN 2015

0
86
Mendikbud

BERITA JAKARTA – Ada yang berbeda dalam pengumuman hasil ujian nasional (UN) tingkat SMA/sederajat tahun 2015. Kali ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengumumkan tujuh provinsi yang mendapat indeks integritas tertinggi dalam pelaksanaan UN SMA/sederajat tahun 2015. Peringkat pertama indeks integritas tertinggi diperoleh DI Yogyakarta, kemudian peringkat kedua dan selanjutnya secara berurutan diraih Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Bengkulu, Kepulauan Riau, Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, hasil indeks integritas setiap provinsi, dari peringkat tertinggi hingga terendah akan dikirimkan ke semua pimpinan daerah, yaitu gubernur, walikota dan bupati.

“Setiap gubernur akan menerima potret kejujuran sekolah di provinsinya. Setiap bupati akan menerima potret kejujuran sekolah di kabupatennya,” ujar Mendikbud saat jumpa pers di Gedung Ki Hadjar Dewantara, Jakarta, Jumat (15/05/2015).

Ia mengatakan, indikasi kecurangan terdapat pada ujian nasional berbasis kertas atau paper based test (PBT). Sedangkan untuk UN CBT (Computer Based Test) atau ujian berbasis komputer, Mendikbud mengatakan tidak terjadi kecurangan sama sekali. “Tingkat kecurangan UN berbasis komputer adalah nol,” tuturnya.

Bahkan Mendikbud menegaskan, semakin sebuah daerah berani menggunakan komputer dalam ujian, berarti semakin daerah tersebut jujur dalam ujian nasional. Usaha dalam perbaikan pelaksanaan UN, katanya, lebih dari sekedar perbaikan nilai karena menjadi bagian dari revolusi mental dan memperbaiki ekosistem pendidikan, yaitu meliputi peserta didik, guru, kepala sekolah dan orang tua.

“Kita ingin menjadikan indeks integritas sebagai tonggak revolusi mental,” kata Mendikbud.

Pengumuman hasil UN berupa indeks integritas di tiap provinsi ini akan terus berlangsung pada tahun depan dan selanjutnya. Sehingga diharapkan bagi daerah yang memiliki indeks integritas rendah akan merasa malu dan berusaha memperbaiki diri. (Desliana Maulipaksi)