Soal Bantahan RS Ananda Kota Bekasi, Sri Supartini: “Itu Hak RS Ananda, Berbeda Dengan Fakta Yang Saya Alami”

0
126
Asbih dan Sri Supartini

BERITA BEKASI – Orang tua bayi kembar pasangan Asbih (39) dan Sri Supartini warga Jalan Hidayah RT05/RW08 Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, mengaku kaget dengan bantahan pihak Rumah Sakit (RS) Ananda. Pasalnya, bantahan yang dilontarkan pihak RS Ananda jauh dari fakta dan kenyataan yang dialaminya.

“Mana ada pihak RS Ananda mengatakan Box Inkubatornya cuma ada satu. Apalagi ruang penuh itu ngak ada? Yang ada ketika itu, pihak RS Ananda hanya mempertanyakan soal devosit Rp16 juta dan itu hanya untuk tiga hari saja,” ujar Sri Supartini ketika disambangi Beritaekspres.com, kerumahnya, Jumat (15/5/2015) malam.

Penanganan juga sambungnya, ketika berada diruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) hanya mengecek darah dan detak jantung bayi tidak lebih dari itu penanganan yang diberikan pihak RS Ananda. “Selanjutnya pihak RS Ananda hanya mempersoalkan biaya yang harus dibayarkan dimuka, tidak ada soal yang lain seperti apa yang dibantah pihak RS Ananda,” katanya.Rumah Sakit Ananda Bekasi (1)

Masih kata Sri, dari soal waktu pihak RS Ananda tidak mengatakan yang sebenarnya. “Saya masuk ruang IGD RS Ananda itu sejak Pukul 09.00 WIB sampai dengan Pukul 12:18 jadi sekitar dua jam setengah saya terbaring di ruang IGD yang masih sibuk mempersoalkan administrasi. Jadi bukan Pukul 10.40 WIB saya keluar dari RS Ananda seperti apa yang dibantahkan. Bukti kwitansi pembayaran masih tertera waktunya.

Kalau saja lanjutnya, pihak RS Ananda ketika itu langsung memberikan penanganan secara medis, mungkin bayi kami bisa selamat. Tapi mau bagaimana lagi keadaan ekonomi yang tidak bisa menyiapkan uang sebesar Rp16 juta itu secara mendadak. “Harus kemana lagi kamu usahakan, karena jatuh pada hari libur, kalau tidak masih bisa berusaha kekantor tempat kerjaan suami,” terangnya dengan raut wajah sedih dan tidak menyangka akan kehilangan bayi kembarnya.

Ditambahkan Asbih, pihaknya tidak ada niat mau memojokan pihak RS Ananda dan banyak pihak yang bertanya, bahkan dari pihak Kelurahan minta dibuatkan kronologisnya. “Kita lagi duka wajar keluarga, kerabat datang, termasuk tetangga mereka bertanya ya saya jawab apa adanya sesuai dengan apa yang saya alami dengan istri hanya itu dan tidak ada maksud lain dan saya tidak tahu tentang aturan dan sebagainya apa adanya aja,” tegasnya.

Asbih mengakui, memang mengambil keputusan untuk mencari Rumah Sakit lain karena tidak ada keputusan dan respon ketika itu dari pihak RS Ananda. “Saya ambil keputusan, setelah kakak saya membawa uang Rp5 juta untuk devosit, tapi tidak dapat respon ya akhirnya saya ambil keputusan mengingat waktu  terus berjalan dan saya takut istri tidak tertolong karena kehabisa waktu,” tambahnya.

Bayi Kembar
Bayi Kembar

Diberitakan sebelumnya, Sri Supartini, istri dari salah seorang karyawan PT. Arnott’s Indonesia yang merupakan pasien dari peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) mau melahirkan di Rumah Sakit Ananda karena mendadak mengalami kontraksi. Setelah sampai, pasien disarankan untuk melahirkan melalui operasi sesar dan perlu Box Inkubator untuk bayi.

Namun, ketika itu pasien harus membayar terlebih dahulu uang dimuka atau deposit sebesar Rp16 Juta agar bisa mendapatkan penanganan secara medis “Padahal saya sudah bilang sebagai karyawan PT. Arnott’s Indonesia yang posisinya berdekatan dengan RS. Ananda ini,” ujar Asbih ayah dari bayi kembar tersebut kepada Beritaekspres.com, Senin (12/5) lalu.

Pihak Rumah Sakit Ananda lanjut Asbih, memita dirinya untuk menghubungi terlebih dahulu HRD (Human Resource Development) PT. Arnott’s Indonesia. Berhubung hari libur (Minggu) tidak ada yang masuk kantor tidak dapat menghubungi sesuai dengan permintaan dari pihak Rumah Sakit. “Tapi saya sudah menawarkan bagaimana kalau saya membayar sebesar Rp5 Juta dulu dan nanti sore saya akan lunasi,” terangnya.

Namun sambung Asbih, pihak Rumah Sakit tidak segera memberi respon cepat atas tawarannya itu. Sementara istrinya yang dalam keadaan lemas, hanya bisa berbaring di ruang Instalasi Gawat Darurat (IDG) Rumah Sakit Ananda, sambil menunggu permohonan suaminya dapat diterima dan segera diberikan pertolongan. “Istri saya dalam kondisi lemas mau melahirkan, hanya bisa terbaring di ruang IGD,” ungkapnya.11013186_828009557234370_4503556908857056544_n

Masih kata Asbih, karena melihat keadaan dan kondisi istrinya sudah dalam keadaan lemas dan takut tidak sempat tertolong lagi ketika mau melahirkan. Akhirnya, Asbih memutuskan untuk membawa istrinya keluar dari Rumah Sakit Ananda untuk mencari Rumah Sakit lain. “Mau keluar dari RS Ananda aja, saya masih harus membayar sebesar Rp124 ribu untuk tempat tidur selama istri saya berbaring di IGD tadi,” keluhnya.

Setelah keluar dari Rumah Sakit Ananda, beberapa Rumah Sakit penuh yang pada akhirnya, Asbih membawa istrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi di Jalan Pramuka No.29. Pukul 16.00 WIB, istrinya melahirkan anak pertamanya lalu disusul selang 20 menit lahir anak ke duanya secara normal. Namun, pihak RSUD Bekasi menyampaikan kepada Asbih untuk segera mencari Box Inkubator ke Rumah Sakit lain karena di RSUD habis.

Asbih pun langsung mencari ke beberapa Rumah Sakit yang ada di Kota Bekasi, tapi tidak ada, semua terpakai hingga Pukul 21.00 WIB, Asbih belum bisa menemukan Box Inkubator untuk kedua anaknya yang baru lahir. Dalam perjalanan usahanya, Asbih dikabari bahwa anak pertamanya telah meninggal. “Dengar kabar itu, lalu saya pulang segera ke RSUD dengan perasaan shok,” kata Asbih kepada Beritaekspres.com.

Sesampainya di RSUD, pihak Rumah Sakit menyarankan Asbih mencari ke Rumah Sakit daerah Bantargebang. Namun, karena terlalu lama pada akhirnya, Pukul 03.00 WIB anak kedua Asbih kembali meninggal duni. “Jujur saya langsung lemas dan tidak banyak berkata-kata, saya berusaha sudah maksimal namun nasib berkata lain,” tutup Asbih. (Indra/Agus)