Munculnya Penyakit Kronis Al-Wahan & Peringatan Rusulullah Tentang Korupsi Bagian II

0
127
Tejo Nagasakti

DITENGAH fenomena manusia diperbudak duniawi (hedonisme), gelanggang kompetisi memburu duniawi, bagai arena gladiator. Bagai 2 sisi mata uang, seperti halnya kebaikan versus keburukan. Wajah-wajah bertopeng bermunculan, sandang pahlawan di tengah kegundahan. Sontak mendadak, ungkapan empati mendulang rating jawara. Menorehkan seabreg platform singkirkan kemunafikan. Riuhan selaksa bocah-bocah kelaparan, kini mampu tersungging, bak terbuai alunan melodi sang pujangga. Tak keliru, berderma dianjurkan, selaras fitrah & esensi religi. Ada penderma harian, bulanan, tahunan, bahkan penderma lima tahunan. Tak dipungkiri, meski corak menebar aneka tujuan, sejatinya intuisi berlandas ridho-Nya. Tersirat, tatkala keperdulian berbagi torehkan harapan sesamanya.

Magnet yatim piatu, kaum fakir, dhuafa seketika melesat, melambung di kancah perhelatan. Bagai komoditas bisnis, kerap mendadak pejabat, politisi, praktisi, tokoh, kiai, ustadz, dan yang lainnya gelar rangkaian keperdulian. Lazimnya momen ramadhan, idul fitri, dan perhelatan-perhelatan penting lain. Terlepas terselip misi, ada asa terpatri dalam dada mereka. Mengharap belas kasih kaum dermawan. Tak dipungkiri, berbondong-bondong manusia, mengaktualisasikan perintah sang Pencipta, infak. Sesungguhnya, konfigurasi kewajiban infak ada dalam firman-NYA. “Perumpamaan orang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan di setiap tangkainya ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang dikehendaki-NYA.”(QS. Al Baqarah 261).

Konklusi, hakekat berbagi terpatri. Menapaki kebermaknaan hidup berkualitas, di tengah sifat & karakteristik manusia tendensi rakus, tamak, dan kikir. Sepenggal firman-NYA, merenda kebenaran bersifat universal. Sejatinya, makna hidup hakiki bukan seberapa besar yang kita dapatkan, tapi seberapa banyak yang dibagikan. Sulitnya berbagi, sinyalemen karakteristik primordial, social-cultural sejak era kenabian, hingga turun firman-NYA. Tersaji gamblang, rangkaian pusaran pembangkangan karakteristik manusia. Menelisik detail histori manusia, Al-Qur’an mengungkap 3 era, masa silam, kekinian, & mendatang. Jelas terungkap, secara ilmiah & fakta, sifat dan karakteristiknya, cenderung memungkiri kelurusan.         

Sesungguhnya,rasa kebersahajaan bersyukur kunci pengendali. Dominasi manusia memburu kebahagiaan kerap ironis. Tak sedikit, terjebak dalam pusaran kecewa. Usahanya bias dan sia-sia, gelisah, apatis, skeptis, & nestapa membelitnya. Euforia menggenggam kesuksesan kerap jebakan mind set. Di balik obsesi & kebahagiaan, apa maknanya ? Paradigma berpikir berangsur dominan, berasumsi tercapainya cita-cita, hidup sukses, berlimpah kekayaan, populer, & yang lainnya, diinterpretasikan wujud kebahagiaan.

Determinan kebahagiaan & tolak ukur materi memberangus paradigma pemikiran. Alhasil, tidak segan-segan berburu harta, meski distorsi. Dengan cara korupsi, menipu, menyogok, menyuap & disuap, dan rentetan trik lainnya. Konspirasi mewarnai semua lini, berdampak dekadensi moral yang kian ekstensif. Dalam kitab kumpulan hadits Riyadhus Salihin yang disusun Imam An Nawawi disebutkan peringatan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam tentang korupsi. “Barangsiapa yang mengambil haknya seseorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan neraka untuknya dan mengharamkan surga atasnya.” Lalu, seorang lelaki bertanya : “Apakah demikian itu berlaku pula sekalipun sesuatu benda yang remeh, ya Rasulullah ? Rasulullah menjawab, “Sekalipun benda itu berupa setangkai kayu penggosok gigi.”

Secara eksplisit, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menegaskan dalam sabdanya : “Barangsiapa yang kami pergunakan di antara kalian sebagai petugas atas sesuatu pekerjaan, kemudian menyembunyikan sebuah jarum, apalagi yang lebih besar dari jarum itu, maka hal itu adalah sebagai pengkhianatan yang akan dibawanya sendiri kelak pada hari kiamat.” Penggelapan harta (tren korupsi, red) menilik hadits di atas sungguh besar dosanya. Spesifik seorang pejabat/pegawai diberi amanat & kepercayaan untuk memimpin & melayani umat. Sekalipun yang digelapkan hanya sebuah jarum, apalagi jika lebih besar nilainya. Hadits di atas adalah ancaman & peringatan keras serta tegas agar seorang pejabat jangan melakukan pengkhianatan terhadap hak milik negara.

Kisah teladan Rasulullah diawali konsistensi hidup sederhana. Suatu hari Fatimah putrinya memakai perhiasan. Rasulullah menegur Fatimah hingga perhiasan kalung emas itu pun dilepasnya. Meski, sesungguhnya kalung itu pemberian suaminya. Kala itu, kondisi rakyat terpuruk. Padahal jika ingin bermewah-mewahan, peluang Rasulullah sangat besar, pasalnya harta rampasan perang berlimpah. Tapi, Rasulullah tidak melakukannya.

Orang-orang yang diberi harta oleh Allah dan tidak amanah (di antaranya kikir) kelak memikul pertanggungjawaban berat jika dibanding orang tidak berharta, karena harus melewati hisab dan pengadilan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Panorama penyesalan bermiliar manusia kelak tiada bermakna. Para pendosa menundukkan kepala dihadapan Tuhan, dan memohon dikembalikan ke dunia untuk beriman & beramal sholeh. (Q.S As Sajadah 12 & Al Mukminun 99-100). Penyesalan selalu datang terlambat. Sejatinya, dunia hanya sarana untuk mencapai tujuan, karena tujuan hidup hakiki adalah AKHERAT. (***)

Oleh : Tejo Nagasakti