Terhipnotis Melalui Telepon Seluler, Ngaku Polisi, Nilang Pengendara Motor Rp2,6 Juta Ludes Buat Pulsa

0
91
Ilustrasi

BERITA JAKARTA – “Tolongin gue bro, gue kena razia gabungan. Gue gak bawa STNK. Gue minta damai, tapi polisinya minta pulsa. Kalau enggak dikasih, motor di sita. Dan, gue masuk penjara. Lu kirim sekarang. Cepat bro” begitulah keluh Ari kepada temannya Fajrul melalui ponselnya minta pertolongan. Fajrul pun, langsung loncat dari kasurnya, mendengar suara rintihan sahabatnya.

Tanpa sempat mandi dan menelan sarapan, seorang sales ini, langsung pergi mencari ATM yang dekat dengan rumahnya di daerah Kemang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Beberapa menit kemudian mulai curiga. “Gue pikir itu teman gue, namanya Ari alias Mamking. Dia emang semalam udah janji mau main ke rumah gue,” kata Fajrul saat ditemui Beritaekspres.com, di SPK Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (27/7/2015).

Ari mengaku butuh bantuan, agar Fajrul mengirimkan pulsa ke polisi yang tengah menilangnya tersebut. Bahkan, seperti sangat meyakinkan, Ari bercerita lewat telepon, bahwa Hp nya telah disita polisi yang menilangnya. Ia memaksa, Fajrul agar segera ke ATM, sebagai cara damai supaya sang temannya tersebut tidak di proses hukum.

“Yang pertama kali nelpon, suaranya mirip banget sama temen gue, si Ari. Lalu, kata dia, motor sama hp nya udah di sita polisi. Agar bisa ‘damai’, polisi ini minta pulsa,” jelasnya.

Singkat cerita, Fajrul pun sampai di Bank BCA Indomart, Tegal Parang, Mampang Prapatan. Melalui suara di ponsel, si pelaku mengarahkan Fajrul untuk mencoba mentransfer pulsa pertama, sesuai dengan nomor Hp si polisi. “Awalnya, dia minta 300 ribu. Ari kena razia gabungan di Kebon Sirih,” ucapnya.

Namun, setelah berhasil di transfer. Ponsel Fajrul tak lama kemudian, berdering lagi. Kali ini, suara pria yang berbeda lagi. Ia mengaku sebagai komandannya. Nah, sang komandan pun, mengaku berpangkat AKP. Ia bisa membantu Fajrul, agar Ari dapat menebus motornya. Syaratnya, dengan memberi uang pelicin. Pada sang komandan.

“Awalnya, saya sudah binggung. Teman saya langgar apa aja sih, sampe dia harus di tahan juga. Tapi, biar cepat kelar, gue nurut juga. Gw pun beberapa kali ngirim uang, katanya buat pulsa ke beberapa nomor. Totalnya, Rp. 2,6 juta,” katanya sambil memperlihatkan struk pembayaran.

Pengiriman pulsa itupun, selesai. Pasalnya, baterai BlackBerry Fajrul mendadak habis. Sesampainya di rumah dia mengirim pesan ke teman memberitahu jika pulsa sudah dikirim. Setelah dibalas, Fajrul pun baru sadar, jika dirinya sudah jadi korban penipuan. “Teman gue bingung, pulsa apa katanya. Gue aja masih di rumah. Dan siang, baru mau jalan,” sesal Fajrul.

Lebih jauh, Fajrul  merasa heran kenapa begitu mudah mempercayai permintaan orang yang tak dikenalnya. “Gue enggak sadar kayak kena Hipnotis. Bayangin aja sepanjang jalan telepon enggak boleh dimatiin gue nurutin aja,” ungkapnya.

Atas hal tersebut, ia langsung melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Polres Metro Jakarta Selatan, dengan nomor LP/1278/K/VII/2015. Dia pun berharap kasusnya dapat diusut oleh polisi, agar tak terjadi kasus serupa kepada masyarakat yang lainnya.” Tandasnya. (Yon)