Silahturahim di ITB, Menag Lukman Hakim: Agama Mutlak Dalam Pembangunan Karakter

0
61

BERITA BANDUNG – Bung Karno pernah mengatakan, bahwa agama adalah unsur mutlak dalam misi pembangunan karakter (Character Building). Untuk membangun jati diri dan karakter bangsa ini, agama adalah sesuatu yang mutlak.

Pesan ini disampaikan Menteri Agama (Menag) saat memberikan sambutan pada Silaturahim Idul Fitri 1436H  Keluarga Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) di Aula Barat Kampus ITB Bandung. Hadir pada kesempatan ini,  Rektor ITB, Majelis Amanat ITB, para dosen serta civitas akademika Kampus ITB dan Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, Senin (27/7/2015).

Menurut Menag, semua agama meyakini bahwa ajaran yang dibawanya mengajak pada  kebajikan, untuk memanusiakan manusia, agar mereka dapat menjalankan fungsinya sesuai kodratnya sebagai manusia. Karenanya, manusia yang baik adalah yang mampu menjaga hubungan vertikal dan fungsi sosialnya dengan baik, dan itu adalah tujuan agama.

“Menjadi aneh, ironis, dan naif kalau kemudian kita menjadi sering berkonflik justru karena melandaskan pada agama. Ironis jika atas nama agama, kita justru melakukan tindakan-tindakan pemaksaan, kekerasan, saling menumpahkan darah sesama,” terang Menag.

Ada dua makna yang menurut Menag bisa dibaca terkait fenomena tersebut. Pertama, keterbatasan kita dalam memahami esensi dan substansi agama itu sendiri. Itulah mengapa ada sebagian umat muslim yang mereduksi makna jihad sebagai kesediaan untuk mengorbankan jiwanya atau jiwa-jiwa orang lain demi menegakkan ajaran agama. “Itulah mengapa bom-bom bunuh diri itu terjadi berlandaskan pemahaman jihad seperti itu dan itu telah mengalami reduksi yang luar biasa,” tuturnya.

Padahal, hakikat makna jihad adalah bersunguh-sungguh menegakkan nilai – nilai agama agar derajat kemanusiaan sesama semakin terhormat, semakin dijunjung tinggi, dan  semakin terlindungi. Dalam Islam, tegas Menag, tidak ada ajaran yang menyatakan bahwa perjuangan itu harus mengorbankan diri atau merusak jiwa. Islam justru mengenal adanya lima hak dasar yang harus dijaga, dan salah satunya adalah melindungi jiwa. 

“Jadi tidak ada berjuang seperti filosofi lilin, memberikan penerangan dengan membinasakan dirinya sendiri, itu tidak dikenal dalam ajaran Islam,” katanya. 

Makna kedua, kalau bukan karena pemahamannya yang keliru, bisa jadi ada pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dan agenda tersendiri lalu memanfaatkan sentiment agama. Sebab, menurut Menag, sentiment agama sangat efektif dalam menggerakan massa dan memiliki dampak yang luar biasa. “Mereka menggunakan agama sebagai  pijakkan untuk memperjuangkan kepentingannya. Yang ini tentu terus didalami oleh apar penegak hukum kita. Tidak hanya aktornya tetapi juga aktor intelektualnya,” papar Menag.

Menag berharap, forum silaturahim Idul Fitri ini bisa membawa civitas akademika ITB untuk sama-sama menangkat spirit dan apinya agama, bukan abunya agama, sehingga  fungsi-fungsi kemanusiaan bisa teraplikasi secara maksimal. “Mudah-mudahan kita semua tergolong orang – orang yang kembali kepada jati diri kemanusiaan kita dan menjadi pemenang, menjadi orang yang sukses setelah dilatih selama Ramadlan,” harapnya. (BA/MKD)