Dalam Acara HUT ke-184, Kartika Putri Terpukau Dengan Ide Bupati Purwakarta

0
106

PURWAKARTA Ada yang istimewa dan unik saat acara HUT ke 184 Purwakarta dan hari jadi ke-47 Kabupaten Purwakarta. Rangkaian acara yang dibarengi dengan Sidang Paripurna Istimewa yang digelar di Pendopo Pemkab Purwakarta.

Jika pada umumnya sidang paripurna diselenggarakan di gedung DPRD, kali ini sidang berlangsung nyentrik dengan duduk lesehan di tengah pendopo. Peserta yang hadir. Datang dengan menggunakan baju pangsi lengkap dengan ikat kepala.

Selingan pidato dari para pejabat diisi dengan penampilan artis ibukota, seperti Kartika Putri, Dewi Gita, dan Charlie “Setia Band”.

Sidang pun tak membosankan karena penampilan mereka serta para penyanyi dan penari daerah. Itulah konsep yang diusung oleh sang Bupati, Dedi Mulyadi.

Dewi Gita pun merasa terhormat bisa bernyanyi lagu Sunda di tengah pejabat yang hadir. Baginya, ini salah satu langkah untuk menghormati dan mendukung para seniman.

“Saya pribadi yang penting adalah kebudayaan disokong penuh. Kita sebagai masyarakat didukung itu sangat Alhamdulillah. Kali ini, ada orang yang mendukung seni di setiap kegiatan kenegaraan dan kemudian kebudayaan terlibat juga, itu sesuatu ya,” ucap Dewi di Pendopo Pemkab Purwakarta.

Senada dengan Kartika Putri, ide cemerlang Dedi Mulyadi menerapkan sidang paripurna istimewa dengan acara lesehan, diisi suasana kebudayaaan Sunda dan dunia, memakan-makanan khas desa, adalah upaya untuk memperkuat jati diri bangsa. Kartika teringat konsep pendidikan yang juga diterapkan Dedi beberapa waktu lalu.

“Beliau (Dedi) frontal tetapi positif. Contohnya, belajar boleh pakai baju bebas di satu hari dan boleh gondrong juga itu enggak masalah yang penting ilmu masuk. Ada taman yang didukung wifi. Banyak membuat anak-anak yang doyan ke mal atau game online tetapi main ke taman. Idenya juara,” timpal Kartika.

Bagi Dedi, acara semacam ini harus tetap dilaksanakan di hari-hari esok. Seni harus menyatu dengan kehidupan. Karena seni juga bagian dari ketuhanan, menurutnya. Sehingga nilai-nilai seni harus aplikasikan dalam kehidupannya nyata. Prinsip itulah yang membuat Purwakarta menjadi seperti saat ini.

“Saya berkesenian, ya mengikuti saja. Kita jalan enggak mikir ada atau enggak ada uang. Saya bukan tipe yang merancang. Negeri ini hanya bisa hebat kalau berkesenian. Kalau kita berketuhanan jangan mengkiblat kepada siapa, bangsa barat atau apa. Tetapi pada yang dekat dengan diri kita. Kita harus berangkat dari kebudayaan,” tutup bupati nyentrik itu. (***)

Sumber: Oke/Rik)