Menag, Indonesia Letakkan Agama Dalam Posisi Strategis Kehidupan Berbangsa dan bernegara

0
82

BERITA BOGOR – Indonesia, meskipun  memiliki jumlah umat Islam terbesar di dunia, namun Indonesia adalah negara yang meletakkan agama dalam posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, agama tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. 

“Negara dan agama merupakan dua entitas  yang menyatu, keduanya memiliki hubungan simbiotik, saling membutuhkan dan bersifat timbal balik,” demikian terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menyampaikan materi Hubungan Agama dan Negara dalam Perspektif Agama dan Konstitusi pada kegiatan Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga Negara dan Deradikalisasi Agama bagi Ustad/Pengajar Pesantren Kerjasama Mahkamah Konstitusi (MK) dan Kemenag di Pusdik Pancasila dan Konstitusi Bogor, Jumat (31/7/2015) kemarin. 

Menyitir pandangan pemikir Islam masa lalu yang telah mengkaji ihwal negara serta kaitan agama dan negara, Menag menyatakan setidak ada tiga pola yang mendasari hubungan keduanya. Pertama, negara adalah agama, agama dan negara terintegrasi atau menyatu (integralistik). Ini yang menjadi dasar mereka yang menjadikan Islam formal. “Bagi yang ingin menyatukan norma Islam di bumi ini, maka harus berwujud negara Islam,” ujar Menag. 

Kedua, agama dan negara simbiosis saja hubungannya (simbiotik), terpisah tidak menyatu. Ini bisa dibedakan, meski tidak bisa dipisahkan, karena keduanya seperti sekeping dua mata uang logam. Ketiga,terpisah antara negara dan bersifat an agama (sekuler), ini yang diterapkan di negara sekuler semisal di Turki.  “Negara adalah entitas sendiri, agama adalah entitas tersendiri, tidak bisa saling mencampuri dan menginrtervensi,” imbuh Menag. 

Dijelaskan Menag, pandangan pertama yakni pandangan integralistik diwakili oleh pemikir Al-Maududi dan ini misalnya diterapkan di negara Arab Saudi dan Iran. Pandangan simbiotik diwakili oleh Ibnu Taimiyah, dalam pandangan Ibnu Taimiyah antara agama dan negara merupakan dua entitas yang  berbeda, saling membutuhkan tidak bisa dipisahkan.  Pandangan sekuralistik digunakan Ali Abdul Raik yang dalam salah satu risalahnya menyatakan bahwa Islam tidak mempunyai kaitan apapun dengan sistem pemerintahan kekhalifahan. 

Lalu bagaimana Indonesia, Menag menyatakan bahwa Indonesia berada dalam pandangan kedua yaitu negara dan agama memiliki relasi simbiotik. 

Menag mengilustrasikan bahwa Indonesia memiliki ritual keagamaan yang sangat kaya dalam masyarat Indonesia. Oleh karenanya, para pendahulu bangsa menegaskan bahwa agama adalah jati diri bangsa, agama mendapat posisi vital. 

Diuraikan Menag, para pendahulu bangsa ini dalam merumuskan common platform bangsa ini yakni Pancasila, maka nilai Pancasila hakekatnya adalah nilai-nilai agama.  “Ini menunjukkan nilai-nilai religiusitas tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia,” ujar Menag. (DM)