Bibir Pecah Dipukul Guru, Orang Tua Siswa Kecewa Dengan Sikap Yayasan SMA Swasta Marsudirini Bogor    

0
706
Ibu Korban VIVI dan Paman Korban Wawa

BERITA BOGOR – Kedua orang tua Candy Karindo (16) siswi korban pemukulan yang dilakukan oleh guru kelasnya bernama Antonius, kecewa dengan pihak Yayasan Pendidikan SMA Swasta Marsudirini Bogor, Jawa barat. Pasalnya, setelah peristiwa itu terjadi, pihak sekolah atau Yayasan Pendidikan SMA Swasta Marsudirini seperti tidak merasa bersalah dan bahkan terkesan perlakuan kasar itu dibenarkan oleh pihak sekolah, Rabu (23/9/2015).

“Buktinya setelah peristiwa itu terjadi, guru yang bersangkutan masih mengajar seperti biasanya tanpa ada sanksi seperti sanksi administrative dan sebagainya yang sudah melakukan perbuatan kekerasan terhadap siswa didiknya disekolah,” ujar ibu korban Vivi Suryani (37) kepada Beritaekspres.com, Rabu (23/9).

IMG_3770Menurutnya, aksi kekerasan yang sudah dilakukan terhadap anak prempuannya itu, bukanlah sikap dari seorang guru atau seorang pendidik. Terlebih lagi, korban merupakan anak prempuan yang sudah seharusnya diberikan sikap yang lembut, bukan justru sebaliknya bersifat arogansi. “Pukulan itu jelas keras sekali, karena bibir anak saya sampai mengeluarkan darah yang keluar dari luka sobek dibagian dalam bibirnya,” katanya.

Saya sambung warga asal Kota Bekasi di Jalan Veteran Dalam RT02/RW02, Kelurahan Warga Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan ini mengatakan, saya sebagai ibu yang melahirkannya dan begitu juga dengan ayahnya, tidak pernah memperlakukan kasar terhadap Candy, apalagi sampai terluka seperti itu dan saya rasa orang tua manapun pasti tidak bisa menerima anaknya diperlakukan seperti ini.. “Candy itu anaknya tidak nakal dan tidak pernah berbicara kasar dan persoalan inikan hanya karena persoalan tugas kliping yang tidak sesuai dengan keinginan sang guru,” terangnya.

Masa hanya gara-gara tugas kliping lanjutnya, yang tidak sesuai dengan keinginan gurunya, lalu anak saya harus menerima kekerasan sampai seperti itu. “Kalau hanya persoalan tugas kliping yang berhubungan dengan pelajaran dan itu dianggap tidak sesuai, seharusnya cukup dengan sanksi nilai atau sanksi yang lainnya dan ngak perlu sanksi kekerasan, karena anak saya bukan masuk sekolah militer yang harus di didik secara kekerasan terhadap fisiknya, memang tidak ada cara lain sampai harus seperti itu,” sindirnya.

IMG_3772Setelah kita persoalkan lanjutnya, nilai anak saya malah jadi anjlok dan saya menduga bahwa anjloknya nilai anak saya dari akibat persoalan ini. “Dugaan saya sangat kuat sekali, karena nilai anak saya ngak pernah sampai seperti itu dan mungkin ini sebagai imbasnya, karena pihak sekolah tidak menerima persoalannya jadi ramai. Bahkan pihak sekolah sempat mengeluarkan surat bahwa anak saya tidak boleh bersekolah lagi di sekolah milik Yayasan Marsudirini dimana pun,” ungkapnya.

Bagi kita tambahnya, tidak jadi persoalan sekolah banyak dan tidak harus anak saya di sekolah milik Yayasan Marsudirini. Tapi dengan sikap ini, jelas pihak sekolah atau Yayasan tidak mencerminkan dunia atau lembaga pendidikan yang bagus dan baik. “Sempat dia keluarkan surat seperti itu, tapi setelah saya pertanyakan, lalu surat itu kembali dirubah sama mereka. Tapi dalam hati kecil saya, meski tetap diterima di sekolah milik Masudirini, yang jelas sayanya sudah tidak mau lagi, karena saya sudah tahu dengan sikap lembaga pendidikannya seperti itu dan saya bayar mahal kok biaya sekolahnya masuknya aja Rp20 juta SPP dan Mes saya bayar setiap bulan Rp3 juta untuk belajar, tapi bukan untuk disiksa,” tandasnya.  (Indra)