Peristiwa Mina, PPIH Telah Terjunkan Orang Terbaik Untuk Identifikasi Korban

0
92

BERITA MAKKAH – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menerjunkan orang-orang terbaik untuk melakukan identifikasi jenazah di Pemulasaran Jenazah Al Muaishim, Arab Saudi. Kendati demikian, tim juga harus menaati prosedur identifikasi yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Abdul Djamil menyatakan tim yang melakukan identifikasi terdiri dari tiga orang dengan latar belakang berbeda. “Mereka terus bekerja mengidentifikasi jenazah di Al Muaishim,” kata dia, Senin (28/9/2015) kemarin.

Djamil menyatakan petugas identifikasi berasal dari TNI/Polri yang sudah memahami kondisi darurat, yaitu Letnan Kolonel Jaetul Muchlis Basyir. Muchlis sudah tujuh kali menjadi petugas haji sejak 2000 dan berpengalaman mengidentifikasi jenazah.

Petugas lainnya, Djamil menyebutkan, yaitu tenaga musiman yang sudah memahami seluk-beluk Arab Saudi, yaitu Naif Bajri Basri Marjan. Naif yang tinggal di Arab Saudi sejak berusia kecil sudah menjadi petugas haji sejak 2006.

Djamil menambahkan PPIH Arab Saudi juga melibatkan petugas Konsulat Jenderal RI di Jeddah, Fadil Ahmad. “Kami berkolaborasi dengan petugas konjen yang telah memiliki kemampuan mengidentifikasi korban,” kata dia.

Menurut Djamil, mereka bekerja hingga dini hari untuk melakukan proses identifikasi seperti melakukan pencocokan foto dengan data lain yang ditemukan oleh kepolisian setempat. Proses berlangsung lama karena adanya beberapa kendala.

Pertama, foto kondisi jenazah sering kali berbeda dengan foto pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kemenag dan haji elektronik (e-hajj) milik Pemerintah Arab Saudi. Tim harus melakukan inventarisasi foto-foto yang diduga memiliki kemiripan dengan wajah-wajah jenazah.

Kedua, banyak jenazah tidak disertai oleh identitas jamaah haji Indonesia. Identitas jamaah haji Indonesia seperti gelang jamaah yang terbuat dari tembaga, Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH), identitas maktab, kartu bus, tas paspor, aksesoris syal, kain ihram, dan kerudung. “Ini perlukan waktu,” kata dia.

Persoalan lain lagi, Pemerintah Saudi baru memberikan akses ke PPIH Arab Saudi pada Jumat (25/9) malam atau satu hari pascakejadian. Selama tiga hari ini, tim pun harus bekerja keras mengidentifikasi jenazah mulai dari meneliti 1.147 foto.

Muchlis menyatakan tim selalu berupaya bergerak dengan cepat untuk melakukan proses identifikasi mulai dari mengenali foto, mendapatkan file, hingga melihat jenazah. Namun, ada berbagai kendala yang harus dihadapi oleh tim.

“Arab punya cara mereka sendiri. Bagi kita, mereka lambat, tapi mereka juga ingin menunjukkan mampu menanganai jamaah haji yang menjadi korban dan melakukan identifikasi ini,” kata dia.

Muchlis pun menuturkan tim kerap melakukan pendekatan personal dengan setiap petugas di Al Muaishim agar proses identifikasi dapat dipercepat. “Pendekatan personal sering kali lebih efektif untuk melihat jenazah,” kata dia.

Konsul Jenderal RI di Jeddah Dharmakirty Syailendra Putra menilai Pemerintah Saudi sebenarnya sudah berupaya memberikan akses kepada seluruh negara pengirim jamaah haji untuk melakukan identifikasi jamaah yang wafat. “Tapi, ada banyak negara yang warganya menjadi korban. Kalau bersamaan justru menjadi kisruh dan gaduh,” ujar dia.

Dharmakirty menyatakan Saudi pun menerapkan mekanisme agar identifikasi dapat dilakukan secara bertahap. Saudi telah mendatangkan kontainer untuk menampung jenazah yang belum teridentifikasi.

Ketika hendak diidentifikasi, jenazah dikeluarkan dari kontainer untuk difoto. Mereka memfoto jenazah yang hendak diidentifikasi. Selanjutnya, setiap perwakilan diberi akses untuk mengidentifikasi melalui foto. “Lalu, lihat file dan jenazahnya,” kata dia. (ratna/mch/mkd)