Gara-Gara Aksi Mahasiswa di DO, Kampus UPS Tegal Akhirnya Digugat Rp10 Miliar

0
131

BERITA TEGAL – Mantan mahasiswa Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Andika Risyanto, menggugat Yayasan Pendidikan Pancasakti (YPP), rektor, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPS, Dr Yayat Hidayat Amir MPd serta Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menriset dan PT) sebesar Rp10,220 miliar. Gugatan dengan nomor perkara 34/Pdt.G.2015/PN.Tgl, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tegal, Jawa Tengah, Kamis (22/10/2015) kemarin.

Gugatan tersebut merupakan buntut dari kebijakan kampus yang men-dropout (DO) lima orang mahasiswanya yang diantaranya, Miftahudin (FE), Deski Danu Aji (FE), Andika Risyanto (FKIP), Silvi Windha Mediaswari (FE) dan Yudha Firmansyah (FE).

Dari kelima mahasiswa itu, empat diantaranya boleh melanjutkan kuliah bahkan Miftahudin berhasil diwisuda. Sedangkan Andika Risyanto tidak ada keputusan yang jelas dari pihak rektorat, sehingga status kemahasiswaanyapun tidak jelas. Akibatnya ia mengalami kerugian baik moril maupun materiil.

“Saya sengaja mengajukan upaya hukum ini supaya keadilan ditegakkan. Saya bersama kawan-kawan yang di DO dari kampus mengalami tekanan dan kerugian yang berat, baik moril maupun materiil. Untuk kerugian moril saya menggugat sebesar Rp10 miliar,” ujarnya.

Menurutnya, semenjak menerima status DO, masa depannya terancam atau tidak jelas, bahkan ia juga mengalami kerugian yang cukup besar. “Biaya yang saya keluarkan selama menjadi mahasiswa dari tahun 2007 sampai diberhentikan pada tahun 2013 sekitar Rp 100 juta. Jika saya bekerja dengan penghasilan perbulan Rp 5 juta, maka selama 2 tahun sebesar Rp 120 juta. Jadi kerugian moril dan meteriil sebesar Rp10,220 miliar,” tegasnya.

Selain menggugat Rp10,220 miliar, Andika juga minta asset UPS berupa tanah dan bangunan disita.

Diungkapkan, kejadian ini bermula ketika mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi UPS Tegal, menggelar aksi dengan mengeluarkan hipotesa perjuangan yang isinya adalah menjelaskan kepada masyarakat bahwa UPS tidak akan menjadi universitas negeri, karena selama tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 sudah tidak ada aktivitas untuk mengusahakan penegerian UPS Tegal. Dan mendesak kepada masyarakat untuk bersama mendorong yayasan transparan mengelola laporan keuangan. Akibat aksi tersebut ke lima mahasiswa di DO.

Dalam sidang perdana itu, Andika Risyanto maju sendiri tanpa didampingi advokat, sedangkan UPS diwakilkan oleh kuasanya hukumnya yakni Mukhidin SH MH, Sanusi SH MH dan Imam Asmaraudin SH. Kuasa hukum Menristek dan Perguruan Tinggi diwakilkan oleh Didit Junaedi SH staf advokasi dan bantuan hukum Biro hukum Kemenristek dan Perguruan Tinggi, Jakarta.

Majelis hakim yang diketuai H Sunarso SH MM anggota Guntoro Eka Sekti SH MH dan Ardhianti Prihastuiti SH, memberikan kedua pihak untuk melakukan mediasi. Jika terjadi deadclok maka sidang akan dilanjutkan, dengan mengumpulkan data dan keterangan sejumlah saksi.  (Gunawan)