Weaving For Life, Diharapkan Bisa Melestarikan Tenun di Indonesia

0
270

BERITA SEMARANG – Dari tenun stagen sederhana menjadi tenun yang penuh warna (Rainbow Stagen) berasal dari Desa Sumberarum, Dusun Sejatidesa, Yogyakarta, menjadi momentum dimulainya kampanye Tenun untuk Kehidupan (Weaving for Life).

Diharapkan gerakan Weaving for Life bisa melindungi hasil karya penenun dan melestarikan keberadaan tenun di Indonesia. Selain itu, dengan rainbow stagen bisa menjadi bangkitnya dinamika ekonomi Desa Sumberarum.

Demikian disampaikan Koordinator Pasar Tenun Rakyat, Evaulia Nindya Kirana melalui rillisnya kepada Beritaekspres.com, dalam Pameran “Stagen, Start Again,” yang digelar mulai 13 hingga 17 Februari 2016 di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu (13/2/2016) kemarin.

“Ini merupakan rangkaian kegiatan menuju Pasar Tenun Rakyat, (tenun untuk kehidupan) yang akan dilakukan pada Maret mendatang, oleh Dreamdelion, yakni sebuah gerakan komunitas sosial anak muda Yogyakarta, yang didukung penuh oleh GEF-SGP (Global Environmental Facility Small Grant Programme) Indonesia, berkolaborasi dengan House of Lawe, Terasmitra dan JIKom (Jelajah Indi Komunikasi),” beber Eva.

Menurutnya, Rainbow Stagen tidak serta merta dibuat begitu saja. Warna tersebut diambil dari warna alam yang biasa dipakai dalam tenun lurik. Misalnya perpaduan warna dalam corak sapit urang, telu-pat, juga udan liris. Jadi tenun tidak pernah dibuat serampangan.

“Tenun itu dibeberapa daerah menggambarkan sejarah dan kesukuan, yang proses pembuatannya sangat rumit, perlu kesabaran. Sayangnya, kadang  si penenun terpaksa menjual dengan harga murah karena kebutuhan ekonomi, misalnya untuk biaya sekolah anaknya,” ungkap dia.

Kadang mereka menjual hanya dengan harga Rp200.000-Rp500.000. Padahal saat dijual di Jakarta oleh pembelinya bisa dihargai jutaan rupiah.

Kenyataan itulah yang membuat gerakan Weaving for Life digagas oleh Lawe dan GEF SGP Indonesia pertama kali di tahun 2011 yang fokus pada pengembangan turunan tenun Molo, Amanatun, dan Amanuban (suku-suku yang berada di Timor Tengah Selatan).

Sementara itu perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisara Kabupaten Sleman, AA Laksmi Dewi mengapresiasi Gerakan Weaving for Life dengan momentum yang dicetuskan dalam Pameran Stagen, Start Again. Diharapkan tenun yang selama ini hampir punah, bisa exis kembali.

“Program ini diharapkan menjadi budaya sehingga masyarakat khususnya Desa Sumberarum tidak lagi pasrah. Karena selama ini mereka membuat tenun jika ada pesanan saja,” kata Laksmi.

Setelah adanya program ini, semua jadi tahu bahwa stagen tidak hanya dililitkan di perut atau sebagai  kelengkapan pakaian tradisional saja, namun stagen bisa dikemas dengan konsep yang lebih praktis.

“Semoga program ini dapat berkelanjutan, tidak hanya memberikan manfaat dalam hal ekonomi,  namun  juga sebagai budaya yang dapat menjadi sebuah potensi menarik bagi wisatawan,” tandas Laksmi. (Nining)