Hartono: Awan Gelap Menyelimuti Mahkamah Agung

0
77
Hartono

BERITA JAKARTA – Sulitnya mendapatkan informasi ter-update seputar jadwal perkara, sampai keluarnya salinan putusan di tingkat Kasasi, merupakan lahan perdagangan perkara bagi kalangan mafia hukum bersama oknum yang ada di MA.

Ironisnya, Mahkamah Agung (MA) yang menjadi harapan sebagai benteng terakhir pertahanan hukum dan keadilan kembali dipertanyakan.

Selain itu, terlalu lamanya satu perkara diselesaikan di MA pun, menjadi lahan fulus bagi sekelompok oknum di MA yang bermain mata dengan pihak pihak berperkara.

Anehnya lagi, sekalipun ada sejumlah Hakim Agung sekaliber Artidjo atau Gayus Lumbun, ada oknum seperti Andri, mantan Kasubdit Perdata MA, yang kini telah mendekam di sel KPK, masih terus membayangi kegelapan MA yang tak mampu disinari oleh sang Ketua MA, Hatta Ali selama menjadi komandan benteng terakhir peradilan hukum di negeri  ini.

“Bukan rahasia umum lagi kalau banyak perkara ditingkat Kasasi, bisa sampai 5 tahun lebih masih juga belum ada salinan putusan. Dan hal ini juga saya alami,” kata Hartono Tanuwidjaja, SH Msi seorang pengacara Ibukota yang juga merupakan Ketua PERADI Jakarta Barat, kepada awak media diruangan kerjanya dibilangan Jalan Suryopranoto, Harmoni Jakarta Pusat.

Mustinya MA kata dia, lebih berbenah diri dalam menata adimistrasi berperkara agar lebih mudah, sebagai penghargaan terhadap sejumlah hakim agungnya sekaliber Artidjo yang menjadi momok bagi kalangan koruptor yang mencoba coba bermain mata di MA, pasti lebih berat hukumannya dibuat pak Artidjo,” ungkap Hartono yang sejak dulu mengidolakan Hakim Agung Artidjo, bahkan Artidjo seringkali menjadi insprasi baginya.

“Kondisi sudah banyak berubah, kecanggihan media online yang gerakannya sangat cepat, sudah terbuktikan. Mustinya MA sanggup memberantas segala bentuk permainan gelap seperti contoh, Majelis Hakim Agung pun bisa dipilih untuk menangani satu perkara yang bargaining harga jualnya cukup tinggi. Kondisi inipun harus tidak terjadi lagi di MA,” pungkas Hartono (Bambang)