Berita Perokok Anak di Bekasi jangan Jadi Penyesatan Informasi

0
17
Afif

PELAJAR yang mulai merokok biasa dari mulai coba-coba, mencuri-curi waktu dan tempat serta mengikuti trend di kalangan teman-temannya, sehingga masuk sebagai perilaku dan gaya hidup sebagai orang dewasa. Kebiasaan rasa ingin tahu, dan pemahaman memang kurangnya informasi bahwa merokok di bawah umur 18+ dilarang, dan jelas tercantum dalam iklan tembakau/rokok, sesuai dengan PP 109 Tahun 2012.

Menurut Afif Penasehat Perokok Bijak Bekasi, menyebutkan bahwa kebiasaan merokok pada dasarnya merupakan hal sangat tidak dianjurkan, karena ROKOK HANYA DIPRODUKSI UNTUK KONSUMSI ORANG DEWASA 18+. “Kami berharap para pedagang rokok tidak melayani penjualan rokok pada anak-anak,” imbau Afif.

Meski Afif sangat menyayangkan jumlah perokok dari kalangan pelajar yang lumayan besar 58.472 siswa saat ini menjadi perokok aktif, akan tetapi Afif juga mempertanyakan kebenaran data tersebut. “Kalo benar ada 58.472 kami sangat meyanyangkan, tapi apakah data tersebut valid, itu adalah pertanyaan berikutnya,” jelasnya.

Dan para pelajar baik banyak siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) yang merokok tanpa merasa bersalah harus dihentikan. “Sebenarnya cukup dengan sanksi dari sekolah, cukup untuk menekan angka perokok remaja,” ujar penasehat perokok Bijak Bekasi ini.

Perokok Bijak Bekasi juga mendukung larangan tegas merokok bagi pelajar (anak-anak dan remaja) di bawah umur 18+ di Kota Bekasi. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID-Kota Bekasi), bahwa perokok aktiv pelajar di Kota Bekasi 30%, dari jumlah 194.907 siswa pelajar Bekasi apabila benar maka jelas ini adalah bagian yang harus menjadi perhatian serius orang tua dan guru.

Menyuruh anak tidak membeli rokok, tapi guru merokok di lingkungan sekolah adalah bagian yang menunjukkan mereka bukanlah perokok bijak. “Perokok bijak itu harus tahu adab dan etika, Perokok harus memberi edukasi pada anak bahwa rokok adalah produk untuk orang dewasa dan guru tidak merokok di lingkungan pendidikan, itu salah satu bukti sikap bijak dari perokok,” kata Afif.

“Kami berharap, data yang disampaikan adalah valid bukan sekedar agenda mendorong aturan kawasan tanpa rokok yang berlebihan dalam penerapnya. Kawasan tanpa rokok adalah pengaturan bukan pelarangan,” tutupnya. (***)