Jurnalis Perempuan Jateng: Akhiri Kekerasan Pada Anak

0
65
Jurnalis Perempuan Jateng

BERITA SEMARANG – Sambut Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2016, Jaringan Jurnalis Perempuan (JJP) Jawa Tengah menggelar aksi kecam kekerasan terhadap anak di depan Patung Diponegoro Undip Pleburan, Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (22/7).

Tema peringatan HAN 2016 yang diambil ‘Akhiri Kekerasan pada Anak’, pasalnya di Jateng sendiri kekerasan terhadap anak masih marak.

Ketua JJP Jateng, Rita Hidayati mengatakan, data terakhir dari Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jateng menyebutkan hingga semester satu memasuki semester dua ini, sudah ada 566 anak yang mengalami kekerasan di Jateng.

“Belakangan ini kami menyorot kasus ketidakadilan yang menimpa korban kekerasan seksual yang pelakunya hingga kini belum diadili. Ini sungguh memprihatinkan,” tandas Rita di sela-sela aksi, Jumat (22/7/2016).

Seperti di Kota Semarang misalnya, lanjut Rita, kasus kekerasan terhadap anak memang masih memprihatinkan.

“Ada kasus kekerasan seksual terhadap anak di Banyumanik yang sangat lambat ditangani Kepolisian. Kasus tersebut menimpa RZ (12) yang diperkosa tetangganya sendiri, dan sudah setahun ini belum ada proses hukum yang jelas,” ungkap Rita.

Dan yang sangat disayangkan, saat dikonfirmasi ke penyidik Polrestabes, kasus tersebut belum bisa disidangkan karena tidak ada saksi.

“Kami JJP Jateng dalam peringatan hari anak mengajak masyarakat untuk menyadari hak dasar anak seperti hak tumbuh kembang, hak hidup layak, hak perlindungan, dan hak partisipasi,” katanya.

Aksi JJP yang dikemas dalam mini drama tersebut memiliki tema ‘Sekolah Alam’ yang di dalamnya mengajarkan bahwa ‘Anak Indonesia Harus Bahagia’ yang diperankan oleh seluruh anggota JJP Jateng.

Pada kesempatan tersebut, JJP Jateng juga menyerukan tuntutannya kepada pemerintah diantaranya Aparat Penegak Hukum (APH) harus menuntaskan kasus kekerasan seksual dan fisik pada anak yang masih mangkrak.

“Hukum berat pelaku kekerasan pada anak tanpa pandang bulu. Kami juga menggugat predikat kota layak anak, apakah Kota Semarang ini sudah benar-benar menjadi tempat tinggal yang aman bagi anak?,” tandas Rita.

Sementara itu, banyaknya tayangan televisi yang tidak mendidik juga menjadi perhatian dari JJP. Kepada pihak terkait, JJP minta agar perlindungan anak benar-benar dibuktikan, jadi bukan hanya sekedar slogan saja. (Nining)

Biro Semarang