Ingin Terlihat Cantik, ABG Nekat Curi Alat Cosmetik di Toko

0
9
Ilustrasi

BERITA JAKARTA – Ingin terlihat cantik, seorang anak baru gede (ABG) nekat mencuri alat kecantikan di toko kosmetik. Untungnya, aksi pelaku NP (17) terungkap, saat mesin sensor barang di toko tersebut berbunyi. Kasus pencurian itu terjadi di sebuah toko kosmetik My Beauty Shop di Simpang III Bumi Sani, Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jumat (2/9/2016).

Oleh kepala toko setempat, NP kemudian dibawa ke Mapolsek Tambun untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Namun persoalan tersebut akhirnya diselesaikan secara musyawarah. Keluarga pelaku bersedia membayar barang yang diambilnya sebesar Rp1.355.000.

“Pelaku kemudian meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Surat pernyataan itu ditulis di selembar kertas yang ditempeli materai Rp6.000,” ujar Kepala Kepolisian Sektor Tambun, Komisaris Puji Hardi kepada Beritaekspres.com, Jumat (2/9).

Hardi mengatakan, berdasarkan keterangan kepala toko bernama Okti Riyanti (23), pencurian itu berawal saat NP datang ke toko yang dikelolanya. Saat itu, NP berpura-pura membeli alat kosmetik seharga Rp11.000.

Mendapat pesanan seperti itu, Okti lalu mengambil barang yang diinginkan pelaku. Rupanya saat Okti tengah mengambil alat kosmetik yang dimintanya, diam-diam pelaku mengambil kosmetik lain dan memasukannya ke dalam tas.

“Setelah membayar kosmetik yang dibeli, tahu-tahu sensor barang yang ada di dekat pintu keluar berbunyi,” kata Hardi.

Mendengar bunyi tersebut lanjutnya, Okti bersama rekannya yang lain lalu menggeledah tas yang dibawa NP. Pelaku pun tak berkutik saat kasryawan toko mendapati sejumlah alat kosmetik yang tersimpan di dalam tasnya.

“Bila ditotal nilai barang yang diambil mencapai Rp1.355.000,” ucapnya.

Kepada polisi, NP mengaku nekat mencuri karena tak memiliki uang tapi ingin terlihat cantik di hadapan kaum ‘Adam’. Karena itu, dia nekat mencuri alat kecantikan yang dijual di toko tersebut.

Puji tak mempersoalkan bila kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. Soalnya keputusan ini diambil tanpa merugikan pihak manapun. Keluarga NP bersedia membayar barang yang diambil, sedangkan korban mendapat uang dari penjualan barang tersebut.

“Selagi kasusnya bisa diselesaikan dengan baik-baik yah tidak ada masalah. Asalkan kedua belah pihak setuju dengan keputusan yang diambil,” jelas Hardi.

Hardi pun mengimbau kepada masyarakat terutama pemilik toko untuk selalu waspada terhadap aksi pencurian. Sebab modus berpura-pura menjadi pembeli sangat sering dijumpai dalam kasus pencurian.

“Pelaku kerap memanfaatkan kelengahan karyawan. Makanya sangat penting sekali keberadaan kamera pengawas dan sensor barang untuk menghindari aksi pencurian,” ungkapnya. (CR-2)