Kaji Tentang Hak Anak, 44 Mahasiswa Kunjungi PKBI

0
55
Kantor PKBI Jawa Tengah

BERITA SEMARANG – Dalam mengembangkan perkuliahan metode service learning pada mata kuliah Hukum Perlindungan Anak, sebanyak 44 mahasiswa Fakultas Hukum dan Komunikasi (semester V dan VII) Unika Soegijapranata mengunjungi PKBI Jawa Tengah.

Para mahasiswa dan dosen diterima oleh Direktur Eksekutif PKBI Jateng, Elisabet SA. Widyastuti, SKM, M.Kes didampingi Koordinator program, Dwi Yunianto, SKM  dan beberapa relawan.

Elisabet menyampaikan, program dan kerjasama serta harapan yang dihadapi untuk mewujudkan cita-cita serta visi dan misi selama ini tidaklah mudah. Karena sebagai LSM angkatan pertama yang mempelopori gerakan Keluarga Berencana di Indonesia, pada waktu itu pemahaman banyak anak banyak rejeki masih melekat di masyarakat.

“Saat ini PKBI sudah teruji, selain PKBI telah terakreditasi A, juga hasil temuan Prof Untung  yang sangat membantu masyarakat dengan ditemukannya metode vasektomi tanpa pisau dan penemuaan metode pencabutan susuk dengan teknik “u”, telah memudahkan pencabutan susuk,” ungkap Elisabet di kantornya, Jumat (2/9/2016).

Dalam menghadapi berbagai permasalahan kependudukan dan kesehatan reproduksi dewasa ini, PKBI menyatakan bahwa pengembangan program-programnya didasarkan pada pendekatan yang berbasis hak sensitif gender dan kualitas pelayanan serta keberpihakan kepada kelompok miskin dan marginal melalui semboyan ‘berjuang untuk pemenuhan hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi’.

Pada kesempatan tersebut Dwi Yunanto menjelaskan terkait sejarah berdirinya PKBI melalui video serta program kerja lembaga dan kerjasama dengan lembaga Internasional.

“Saat ini unit layanan di PKBI meliputi Klinik Kesehatan dan KB Warga Utama, IIWC, Pilar dan Rumpin Bangjo di Johar, Progaram HIV-AIDS serta Wisma,” jelasnya.

Dwi Yunanto juga meminta para mahasiswa untuk ambil bagian pada pendampingan anak di Johar dan Lokalisasi Tegal Rejo. Karena, pada lokasi tersebut permasalahan anak cukup komplek, selain identitas diri bagi anak dan orangtuanya, juga permasalahan sosial lainnya.

Menurutnya, mereka rentan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual, akses pada kesehatan dan pendidikan juga sangat terbatas, oleh sebab itu kehadiran dan kepedulian para mahasiswa sangatlah dibutuhkan.

Selanjutnya, hasil temuan dan kajian nantinya akan diseminarkan dan mengundang Stakeholder serta masyarakat peduli anak. Dengan demikian akan terurai simpul yang mengekang permasalahan anak- anak di Kota Semarang dan sekitarnya. (Nining)

Biro Semarang