PN Medan Gelar Kasus Pengeniayaan di Cafe Retrospective Capital Building

0
117
Musthofha Mukhlis SH

BERITA MEDAN – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara, kembali menyidangkan, 4 terdakwa perkara penganiayaan yang terjadi dilokasi Tempat Hiburan Malam (THM), Retrospective, Capital Building di Jalan Putri Hijau, Kecamatan Medan Barat dengan korban, Egi Arjuna Ginting, Rabu (19/10/2016).

Dalam sidang dengan agenda keterangan saksi korban itu, Ketua Majelis Hakim Irwan Effendi meminta saksi korban untuk menceritakan peristiwa sebenarnya yang dialaminya.

Pada persidangan kali ini, saksi korban Egi Arjuna Ginting menceritakan awal kejadian pemukulan yang dialaminya bersama rekannya, Boy Ananta Tarigan, di Retrospective, Capital Building.

Sementara itu, dalam keterangan pers-nya kuasa hulum El Barino cs Musthofha Mukhlis SH mengingatkan para saksi yang telah diperiksa, dapat terancam memberikan keterangan palsu dibawah sumpah di persidangan atau sumpah palsu.

Saya dan tim penasehat hukum terdakwa berulangkali meminta Majelis Hakim untuk memperingatkan agar para saksi memberikan keterangan sebenar-benarnya dan tidak lain dari yang sebenarnya dikarenakan banyak keterangan saksi yang tidak konsisten dan saling bertentangan satu sama lain serta bertentangan dan tidak didukung oleh alat bukti dan fatka persidangan (Pasal 174 KUHAP),” terang Musthofa.

Ditambahkannya, dengan demikian saksi-saksi yang tetap pada keterangannya yang tidak konsisten, bertentangan dan tidak didukung dengan alat bukti dan fakta dapat diancam pidana memberikan keterangan palsu di persidangan sebagaimana diatur dalam pasal pasal 242 KUHP ayat 1 dan 2 dan ketentuan Yurisprodensi Mahkamah Agung dan Hoge Raad yang menyebutkan syarat dari tindak pidana tersebut adalah:

  1. Suatu ketentuan Undang-Undang yang menghendaki suatu keterangan dibawah sumpah atau yang mempunyai akibat-akibat hukum.
  2. Pemberian keterangan palsu dan kesengajaannya ditujukan kepada kepalsuan itu,terang Musthofa

Diketahui pada sidang pemeriksaan saksi kedua, Rabu, 19 Oktober 2016, salah satu saksi mencabut keterangan Berita Acara karena tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya dan saksi mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya.

Adapun beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan adalah sebagai berikut:

  1. Keterangan saksi korban yang tidak sesuai dengan alat bukti dan fakta persidangan;
  2. Keterangan saksi korban yang tidak konsisten dan berbelit-belit;
  3. Salah satu saksi korban mengakui bahwasanya beberapa keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) adalah testimoni, bukan keterangan yang saksi lihat, dengar dan rasakan sendiri;
  4. Pada pemeriksaan saksi selanjutnya, terdapat banyak keterangan yang tidak bersesuaian, bertentangan baik dengan keterangan saksi lainnya, alat bukti dan fakta persidangan;
  5. Salah satu saksi mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) karena tidak sesuai dengan kenyataan dan kebenaran yang sebenarnya;
  6. Para saksi berulang kali merubah atau menganulir keterangannya di persidangan setelah dikejar pertanyaan yang bertentangan dengan fakta;
  7. Keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) hampir sama persis dan terkesan copy/paste.

Berdasarkan hal tersebut, tim penasehat hukum akan melakukan beberapa langkah hukum baik dalam persidangan maupun tindakan hukum untuk menindaklanjuti keterangan yang berindikasi keterangan palsu dibawah sumpah.

Dengan demikian terlihat terang dan jelas bahwa proses penyidikan yang bertentangan dengan hukum (tidak sesuai dengan hukum acara) dapat berakibat proses penuntutan yang cacat hukum. Terdapat banyak keraguan terhadap keterangan saksi dan alat bukti (reasonable doubt).

Kita berharap majelis hakim pemeriksa perkara dapat jeli dan menegakkan keadilan sesuai dengan fakta persidangan dan kebenaran sesuai dengan ketentuan hukum pembuktian di persidangan.

Kita juga sedang memantau berkas perkara terhadap saksi yang belum juga maju ke persidangan.

Apakah kita bisa melihat penegakan hukum yang benar, tepat dan adil di Kota Medan ini sesuai dengan konsep keadilan dan kebenaran (Fiat Justitia Ruat Caelum),”tegas Musthofa. (Roy)

Biro Medan