Anak Bungsu Rohadi Berumur 12 Tahun Ajukan Prapradilan KPK

0
129
Rohadi

BERITA JAKARTA – Anak bungsu Rohadi pengawai negeri sipil (PNS) mantan Panitera Peganti (PP) Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara yang dijadikan tersangka dan ditahan Komisi Pemberantasan Korusi (KPK) yang baru berusia 12 tahun bernama, Reyhan Satria Hanggara berani menggugat KPK dengan mengajukan Praperadilan, karena tak terima ayahnya ditahan dan dijadikan tersangka oleh KPK.

Sementara, Rohadi sendiri, membantah bahwa pengajuan Praperadilan tersebut adalah inisiatifnya, tapi kuasa hukum, Reyhan, Tonin Singarimbun, menyebut Rohadi hanya berpura-pura saja. Mana ada tersangka yang tak ingin bebas dari segala sangkaan.

“Ini lagu lama. Kalau ditanya setuju, apa tidak setuju siapa yang enggak mau bebas. Berarti ada tekanan kepada Rohadi,” terang Tonin kepada Beritaekspres.com, Rabu (26/1/216) kemarin.

Sekarang lanjutnya, yang maju adalah anak yang membawa rezeki buat Rohadi. Namanya Reyhan. Rohadi pura-pura aja itu enggak mau. Siapa yang tidak ingin  bebas,” ulas Tonin lagi usai sidang Praperadilan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat.

Dijelaskan Tonin, KPK tidak berhak menangkap Rohadi dengan statusnya sebagai Panitera Pengganti. Menurutnya, KPK untuk tingkat Pengadilan hanya boleh menindak Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan yakni, Hakim, dan Panitera.

“Di Pengadilan yang boleh itu Ketua Pengadilan dan Wakil, Hakim, Panitera Pengadilan. Bapaknya Ryehan ini, seorang Panitera Pengganti, tapi kok ditangkap dengan kaitannya soal grafitikasi yang dituduhkan dan TPPU. Itu enggak boleh yang boleh Polisi dan Jaksa, kalau KPK enggak boleh,” kata Tonin.

Sidang yang dipimpin Hakim tunggal Syahrul memutuskan untuk menunda sidang Praperadilan Rohadi sampai tanggal 9 November 2016 karena ketidakhadiran dari pihak KPK.

Sedangkan Kuasa hukum Rohadi, Farida, menjelaskan, kliennya tak setuju anaknya dibawa-bawa dalam kasus hukum yang membelitnya. Oleh sebab itu ia meminta izin kepada Majelis Hakim di persidangan dugaan suap agar bisa menghadiri Praperadilan. Ia ingin menyatakan bahwa tak pernah memberi persetujuan kepada Reyhan untuk mengajukan Praperadilan.

“Pak Rohadi tak mau anaknya dilibatkan dalam kasus hukum ini,” kata  Farida di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Usai persidangan, Rohadi menghambur memeluk anaknya. Ia tidak kuasa menahan tangis histeris hingga berguling-gulingan di lantai gedung Pengadilan. (Bambang)