Bentuk Karakter Pemuda Indonesia Melalui Revolusi Mental

0
237
Surya Chandra Surapaty

BERITA JAKARTA – Revolusi mental dibutuhkan dalam membentuk karakter pemuda Indonesia. Ini diungkapkan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional, Surya Chandra Surapaty dalam keynote speech-nya yang bertema “Memperkuat Peran Remaja, Dalam Menggapai Generasi Berencana”, yang disampaikan dalam Seminar Nasional dan Sosialisasi Revolusi Mental Berbasis Pancasila Melalui Keluarga di Gedung Fakultas Ushuluddin Lt. 4 UIN Jakarta (Kampus I), Jl. Ir .H. Juanda No. 95 – Ciputat, Jakarta, Selasa (8/11/2016).

Sebagai lembaga yang menangani masalah kependudukan dan keluarga berencana, Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional memiliki peran strategis untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam menciptakan keluarga berencana. Dengan semangat generasi muda BKKBN menggalakkan program generasi berencana “Genre” untuk generasi muda Indonesia agar merencanakan masa depannya.

“Membangun karakter calon pemimpin bangsa harus dimulai dari sekarang, dapat dibangun melalui program Generasi Berencana (Genre), karena dengan menjadi generasi berencana, maka remaja dapat menjadi penerus bangsa yang berkualitas,” kata Surya ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Selasa (8/11).

Saat ini lanjutnya, persentase penduduk remaja (kelompok umur 10-24 tahun) yaitu sekita 25,63 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia, atau dari 4 orang penduduk, terdapat 1 remaja. Untuk itu jumlah remaja yang besar ini menjadi modal dalam pembangunan dan menjadikan kondisi demografi ini sebagai Bonus Demografi.

Bonus demografi merupakan suatu kondisi dimana jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) mencapai 70 persen, sedang 30 persen yang tidak produktif (Usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Peningkatan jumlah penduduk usia kerja ini sangat menguntungkan di bidang ekonomi, karena beban ketergantungan akan mencapai titik terendah, artinya setiap penduduk produktif hanya akan menanggung sedikit penduduk yang tidak produktif.

Dilanjutkan Surya Chandra, secara ekonomi suatu negara atau wilayah yang mengalami bonus demografi, akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya dengan baik, dengan catatan apabila bonus tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Pemanfaatan bonus demografi harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penduduk agar mampu berperan dalam pasar kerja, membuka peluang pekerjaan seluas-luasnya sehingga sebagian besar angkatan kerja tersebut dapat terserap dalam pasar kerja.

Apabila tidak dapat memanfaatkan momentum bonus demografi, maka akan terjadi apa yang disebut dengan petaka demografi. Untuk itu peningkatan kualitas penduduk melalui peningkatan kualitas pendidikan adalah hal yang sangat penting dilakukan.

Namun dilihat dari kualitasnya, secara umum Indeks pembangunan manusia masih rendah yaitu di angka 68,90. Dengan Cakupan Tingkat Pendidikan Angkatan Kerja Indonesia masih sangat rendah, yaitu 10,5 persen, diploma dan universitas, 37,5 persen, SMP dan SMA dan 52 persen SD dan dibawahnya. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan negara-negara Asean lainnya seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Rata-rata lama sekolah yaitu 7,73 tahun dan harapan lama sekolah hanya 12,39 tahun.

Berbagai temuan bukti empiris telah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa di masa depan sebagian besar ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, bukan oleh melimpahnya sumber daya alamnya sehingga Pembangunan sumber daya manusia merupakan  investasi jangka panjang  yang harus diprioritaskan dalam perencanaan pembangunan,” ujar Surya.

Surya menambahkan bahwa generasi muda diharapkan dapat membangun karakter dan kompetensi sebagai wujud revolusi mental dari diri sendiri dan dari saat ini, untuk itu pemuda dan remaja harus mengaplikasikan tiga nilai revolusi mental sebagai dasar pembentukan karakter sejak dini. Ketiga nilai tersebut adalah integritas, etos kerja, dan gotong royong.

Rakyat Indonesia, khususnya generasi muda agar melakukan revolusi mental dengan cara  berlomba-lomba menunjukkan prestasi di bidang masing-masing,” kata Surya.

Untuk itu, BKKBN dengan gencar menggalakkan program Generasi Berencana (GenRe) dengan harapn menjadikan kualitas remaja Indonesia mampu menjadi remaja yang mampu menggantikan generasi berikutnya, sehingga Indonesia kelak semakin maju serta diperhitungkan di mata dunia. Melalui Generasi Berencana (GenRe), menuju generasi emas Indonesia,” tegas Surya.

Masih kata Surya, Generasi yang memiliki perencanaan baik tentunya akan dapat dicapai dengan mendapatkan dukungan dari semua pihak, dimulai dari keluarga, lingkungan masyarakat serta dukungan dari pemerintah dan institusi pendidikan. Segala persoalan yang dihadapi oleh remaja akan mudah dihadapi bersama-sama semua pihak, tidak hanya oleh remaja sendiri.

Hasil yang diharapkan dari Generasi Emas tambahnya, yaitu generasi yang memiliki pola hidup sehat sehari-harinya, generasi yang menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin, generasi yang memiliki pekerjaan yang kompetitif, generasi yang menikah terencana dan generasi yang aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

“Generasi Emas Indonesia yang diidamkan akan tercapai dengan lebih cepat dengan terciptanya Generasi Berencana.” Pungkasnya. (Steve)