Syaeful Bahar: UN Dihapus, Standar Penilaian Nasional Tetap Dibutuhkan

0
103
Syaeful Bahar

BERITA BONDOWOSO – Ketua Dewan Pendidika Kabuapten Bondowoso, Syaeful Bahar mengatakan bahwa dirinya setuju dengan rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy untuk menghapus Ujian Nasional (UN) yang hingga saat ini masih belum diputuskan oleh Presiden RI, Joko Widodo. Syaeful Bahar setuju lantaran UN yang sudah berjalan selama ini justru keluar dari koridor sebagai keberhasilan pendidikan.

“Ujian Nasional yang tersentralisasi itu justru menimbulkan adanya guru dan sekolah yang menfasilitasi murid untuk melakukan kecurangan dan bukan rahasia umum lagi. Bahkan bisnis umum kalau kunci jawaban itu beredar sebelum ujian dan itu diperjual belikan,” bebernya ketika berbincang dengan Beritaekspres.com di kediamannya, Selasa (29/11/2016).

Menurut Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini, jika ada kebijakan seperti itu, (penghapusan UN, red) itu bagus. Tapi, katanya, yang perlu diingat standar kelulusan secara nasional juga harus diperhitungkan agar sekolah tidak sekadar meluluskan siswa saja, tetapi juga ada standar yang menjadi prinsip bahwa siswa tersebut memang layak untuk lulus.

“Kalau Pemerintah menghapus UN, standar penilaian secara nasional terkait kompetensi kelulusan siswa ditiap tingkatan tetap dibutuhkan sebagai rujukan. Walaupun kebijakan kelulusan diserahkan kepada sekolah masing-masing,” terangnya.

Ketua Dewan Pendidikan yang pernah menjadi Ketua LP Ma’arif PC-NU Bondowoso ini menyayangkan adanya oknum lembaga pendidikan yang meluluskan siswa yang tidak layak lulus.

“Menjadi tidak benar ketika ada siswa yang secara prinsip dan di mata guru tidak layak lulus, justru diluluskan hanya agar sekolah terlihat berkualitas dan mampu meluluskan siswa 100 persen,” ungkapnya.

Syaeful Bahar kembali mengingatkan kepada Pendidikan Karakter yang pernah diusulkan Mendikbud di-era Presiden Susilo Bambang Yodhoyono (SBY), Prof. Mohammad Nuh. Menurutnya, pendidikan sangat baik dan yang menjadi tujuan utama pada waktu itu adalah pembentukan karakter.

“Kalaupun nilai siswa tidak terlalu bagus, jika memiliki karakter yang baik kenapa tidak diapresiasi. Pendidikan negara maju sudah mengarah kepada itu semua, (Pendidikan Karakter, red). Kalau hanya sekedar angka, orang akan berebut menghafal kunci jawaban dan itu ‘menyesatkan’ saya kira,” jelasnya.

Di akhir perbincangan, kembali mengingatkan betapa butuhnya pendidikan di negeri ini kepada pendidikan yang ada di Pondok Pesantren. Bagi Syaeful Bahar yang pernah nyantri di PP Nurul Jadid Probolinggo ini, pendidikan ala Pesantren merupakan tempat yang pas untuk membina mental peserta didik.

“Kita harus kembali ke Pesantren menurut saya. Di pesantren itu seingat saya tidak pernah menolak santri atau siswa. Entah itu baik atau yang buruk. Semua yang masuk ke Pesantren akan ditempa karakternya agar menjadi baik.” Pungkasnya. (Abdul Wahet)

Biro Bondowoso