Aksi 212, Didit Susilo: Bukan Makar Bukan Politik, Cuma Gema Takbir

0
69
Aksi Bela Islam Jilid III (212)

GEMA TAKBIR terus menggema menjadi ikon dan kekuatan jiwa dalam mengendalikan emosi. Terus bersautan menjadi salam perjuangan laksana Bung Tomo menggugah para syuhada dalam Resolusi Jihad Surabaya, Jawa Timur.

Dalam lautan massa secara rasional pasti emosional namun bisa dikendalikan oleh lafaz – lafaz Illahi sehingga menjad teduh, damai dalam Rahmatan lilalamin untuk saling mengingatkan. Ini torehan sejarah bersatunya kekuatan umat Islam yang selama ini sempal kemana-mana.

Rekor pengumpulan massa 7,4 juta umat memecahkan rekor dunia. Langit ikut menangis menurunkan hujan teduh tipis dan malaikat-malaikat ikut bersujud. Semua yang ikut hadir pasti larut dalam suasana reliji yang dalam, membuka relung hati, kemanakah keimanan itu selama ini.

Doa-doa terus dipanjatkan oleh Ustad Arifin Ilham, satu yang membuat treyuh doa khusus kepada Bapak Basuki Tjahya Purnama agar diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan hidayah.

Jutaan mulut mendoakan keselamatan bangsa Indonesia tercinta, mendoakan semua umat beragama, mendoakan pemimpin-pemimpin bangsa diberikan kekuatan dan kesabaran wabil khusus doa kepada yang mulia Bapak Presiden Indonesia Jokowi.

Doa untuk meneguhkan niat terus berjuang dan berjihat menuntut keadilan yang memang benar-benar adil kepada penista agama Allah. Menggugah hati para penebar kebencian dengan sejuta caci maki yang mulutnya buas dan kotor tapi terus dibela karena dianggap sudah berjasa dalam pembangunan.

Doa untuk para pendengki yang menggandeng syetan dan triliuan uang membolak balikkan keimanan dengan membelinya dengan kelaparan. Semoga dan semoga mereka mendapat tobat dan hidayah untuk menghargai antar umat beragama, menghormati para pemimpin antar agama, mengedepankan aklak mulia yang bermartabat. Memanusiakan manusia beragama dengan tidak menghinanya dengan mulut yang berisi kebencian dan arogansi karena memegang kekuasaan.

Jakarta hari itu dipenuhi lautan massa dari penjuru Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Semua sudut penuh dengan umat yang memakai berbagai atribut khas Muslim mulai peci putih, sorban, koko putih, bendera-bendera majelis taklim dan sebagai wujud cinta tanah air yang tidak diragukan adalah ikat kepala dan sleyer bendera merah-putih.

“Kami cinta tanah air Indonesia, Kami cinta persatuan, Kami cinta kebhinekaan karena Islam adalah Rahmat. Tapi kami ingin berdiri sejajar dihadapan hukum, hukum harus adil se-adiladilnya, hukumlah para penista agama karena mereka intoleran dan sejatinya memecahbelah persatuan umat,” begitu teriakan para kader HMI yang tidak kebagian duduk di Lapangan Monas. 

Di barisan depan Ustad Arifin Ilham terus mengumandangkan tahmit, tahlil dan dzikir memuja muji kebesaran Allah SWT, di tengah hujan rintih. Langit mendung dan hujan turun tidak membuat jamaah bergeming justru semakin larut dalam lantunan ayat-ayat suci. Mendekaki pukul 12.00 suara adzan dikumandangkan dan pertanda sholat Jum’at akan dimulai. Khutbah Jum’at dimulai dengan tausiah terkait kebangsaan, cinta tanah air dan toleransi, hingga sholat dua rakaat dimulai.

Dalam pengumuman terdengar, Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi, Wapres Bapak JK, Menkopolkam Wiranto dan beberapa menteri berkenan ikut sholat Jumat bersama. Dalam sholat dua rakaat saat usai ruku dibacakan doa qunut yang cukup panjang dari imam sholat. Hampir 5 menit doa itu dikumandangkan cukup panjang dan khusuk.

Hujan masih terus turun hingga akhir salam. Habis sholat diisi doa-doa dan sambutan yang mulia Bapak Presiden RI Jokowi, dalam sambutannya Jokowi sesekali dipaksa massa untuk takbir. Bapak Presiden berterimakasih massa tertib dan untuk terus tertib saat kembali ke daerah masing-masing. Saat sambutan sebagian massa di barisan belakang hanya mendengar sayup-sayup karena dengan spontan langsung bersholawat bersama sambil berkemas.

Semua saling berpelukan, berjabat tangan dan mengepalkan tangan sebagai simbul perjuangan akan akan kembali lagi jika digelar aksi lanjutan. Saat beranjak usai sholat secara tidak sengaja, Allah mempertemukan dengan seorang mantan pimpinan managamen Pos Kota Group dulu tempatku bekerja sebagai jurnalis. Kami berpelukan erat dan tak sadar air mata ini meleleh haru, padahal jarang sekali diriku berlaku cengeng, melankonis dan bla-bla tapi kenapa hanya dengan pertemuan ini kami saling sesunggukan meneteskan air mata.

“Dit aku bangga, ternyata dirimu yang dulu gondrong, cuek, liberal, dan begajulan bisa bertemu denganmu setelah 15 tahun lebih berpisah. Allahu Akbar,” teriaknya. Kami bercengkrama sebentar dan kemudian dia pamit karena sudah ditunggu rombongannya. Kami saling memekikkan takbir sebagai tanda perpisahan dan secara otomatis semua yang mendengar ikut takbir bersama, Allahu Akbar!!!.       

Aku sudah niatkan untuk pulang kapan saja sehingga tidak terburu-buru berjalan kaki mengikuti massa arah pulang. Aku berusaha sekuat tenaga untuk maju ke barisan terdepan namun sangat sulit karena massa melakukan hal yang sama. Dengan kamera yang terus kutenteng setiap momen kejadian kuabadikan.

Hingga akhirnya aku berhenti di satu titik samping taman kecil Monas, saat seorang lelaki tua dengan dibantu lelaki-lelaki tegap membagikan air mineral, bacang, tahu, lontong ke massa yang beranjak pulang. Semua pedagang makanan yang terdekat dia kumpulkan dan diborong tanpa menawar.

Aku dengar dari sekitar 50 lebih pedagang berbagai makanan dia borong senilai 17 jutaan dan dibayar tunai. Dari dialeknya dia berasal dari Madura, Jawa Timur, tapi dari pakaian koko yang dikenakannya terkesan biasa saja. Naluri jurnalisku menggelitik dan dengan meminta sebungkus tahu dan bacang, aku bertanya, tapi sekitar empat orang ajudanya mencegah dan meminta maaf kalau identitas bosnya tidak mau diketahui.

Mungkin saja dia Bupati atau salah seorang pejabat daerah di Madura. “Maaf mas, Bapak hanya niat ibadah, mas wartawan ya. Mohon maaf ya mas,” bisiknya dengan penuh harap dan sopan. (bersambung)

Oleh: Mas Didit Susilo