Catatan Aksi 212, Didit Susilo: Bukan Makar, Bukan Politik, Tapi Takbir

0
99
Stasiun Juanda Jakarta

DI TAS KECILKU kugantungkan handuk dengan maksud untuk menyeka keringatku. Namun, justru karena hujan turun, sering aku menyeka mukaku dan mengusap mataku karena sembab terbawa emosi kejiwaan. Sorban yang kukenakan kugunakan untuk menutup kepala persis di atas peciku. Entah mengapa Jum’at ini sepertinya aku sudah berjalan mondar mandir namun tidak pernah merasa lelah. Justru yang ada energi lebih yang terus memompa semangatku.

Dalam hati kecilku, doa terus kupanjatkan, “pantaskah aku berkumpul dengan jutaan hamba-Mu hari ini yang terus memuliakan nama-Mu. Sedangkan dalam hidupku tak lebih dari seorang pendosa yang hina, jauh dari jalan-Mu, rahmat-Mu bahkan minim akan amal ibadah”. Ampunilah aku ya Allah Ya Rob, aku sujud dihadapan-Mu. Kau yang maha agung tidak perlu dibela, sejatinya aku hanya membela diriku sendiri, membela indentitasku agama Islam, hanya itu dan tak lebih.

Usai sholat ternyata jamaah masih belum bisa dilalui karena padatnya arus manusia. Hingga pukul 14.00 WIB Lapangan Monas masih dipenuhi jamaah, sementara para penggagas aksi sudah sudah membubarkan diri dengan dikawal aparat keamanan yang sedari awal juga ikut barisan makmun. Langkahku terus berkeliling mengamati situasi dan mencari momen momen khusus untuk diabadikan. Hujan terus turun dan tambah lebat, tak sadar sudah hampir 4 jam semua bajuku basah kuyub namun tak terasa dingin.

Karena kameraku mulai terkena tetesan air, kuputuskan untuk menepi untuk berteduh di sisi kanan Monas persis di bawah jalan layang kereta api. Untuk menuju lokasi itu juga tidak mudah karena gelombang massa merayap dengan terus bersholawat. Untuk mencapai jarak hanya 500 meter diperlukan waktu sekitar 30 menit dan kupanjat pagar taman untuk cepat sampai. Di tempat itu juga penuh sesak jamaah yang juga bereteduh dan tak mau beranjak.

Karena hujan tak mau berhenti, jelang sholat Aszar aku nekat untuk menuju pintu masuk Masjid Istiqal yang hanya berjarak sekitar 100 meter. Adzan dikumandangkan dan hampir semua jamaah yang tadinya ikut sholat di Monas, sholat Azar di Istiqal. Usai sholat, tidak mau kemalaman kuputuskan untuk menuju Stasiun Juanda yang hanya berjarak sekitar 300 meter. Meski waktu makin sore ternyata lautan massa masih menyemut menuju Stasiun dan sebagian melewati jembatan penyeberangan (JPO). Dari bawah kudengar jembatan itu berbunyi gemeretak karena kapasitas yang tak wajar namun lafaz Illahi seolah jembatan itu kokoh menyangga para jamaah.

Para jamaah dari Kota/Kab Bekasi, Kota/Kab Bogor, Depok, Tangerang, Banten tumplek blek berkumpul hingga stasiun di lantai 1 hingga lantai 2 tidak mampu menampung jamaah. Petugas jaga dengan sabar meminta para jamaah bersabar dan mengumumkan, dijamin semua penumpang terangkut walau sampai malam hari.  Dengan berdesakan persis menjelang magrib, aku bisa mencapai dalam stasiun, namun perut terasa lapar dan harus sholat magrib. Untuk mengambil air wudlu juga antrian cukup panjang, akhirnya menggunakan air mineral untuk berwudlu.

Usai sholat, aku masuk minimarket untuk membeli popmie dan sekaligus menyeduhnya. Sekaleng air larutan kubeli agar menghilangkan panas dalam. Dengan sigap makan mie kuhentikan karena terdengar pengumuman kereta api jurusan Bekasi segera datang. Untuk masuk gerbong kereta juga perlu perjuangan ekstra, hampir semua gerbong penuh sesak padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB lebih. Kereta sering berhenti sebab crosing dan memang jalur sangat padat, PT. KAI mengerahkan semua armadanya untuk mengangkut jamaah tanpa batas.

Sekitar pukul 21.00 WIB malam kereta memasuki Stasiun Bekasi dan kami semua jamaah yang semula saling bersautan dalam takbir, saling bersalaman serta meneguhkan hati untuk kembali ke Jakarta jika memang ada aksi lanjutan. Ke Jakarta aku kan kembali walaupun apa yang akan terjadi, kataku menirukan lagu Koesplus. Kutegaskan aksi ini bukan aksi bayaran, aksi unjuk kekuatan untuk menakuti umat lain, apalagi aksi makar dan mengoyak-ngoyak persatuan negeri ini. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!!!.  

Oleh: Didit Susilo