Community TB-HIV Care ‘Aisyiyah Jawa Tengah’ Gelar Pelatihan Kader

0
97

BERITA SEMARANG – Community TB-HIV Care ‘Aisyiyah Jawa Tengah’ menyelenggarakan pelatihan kader TB komunitas yang serentak digelar di 13 daerah yakni, di Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Pemalang, Kota Tegal, Kabupaten Boyolali, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Purworejo, Wonosobo, dan Kabupaten Purbalingga.

Diperkirakan pada tahun 2015 angka insiden TB di Indonesia 399/100.000 dengan perkiraan angka prevalensi 647/100.000 dan angka kematian TB-HIV sebesar 8,5 per 100.000 penduduk, serta insiden TB-HIV sebesar 25 per 100.000 penduduk (Global Report TB Tahun 2015).

Koordinator Sub Recipient TB HIV Jateng 2, Kiki Ahmad Harmoko menyampaikan, Program TB di Indonesia di tahun 2015 telah berhasil menemukan dan mencatat semua kasus TB sebesar 129 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2016 (data per 28 Agustus 2016) sebesar 51 per 100.000 penduduk. 

Angka penemuan kasus TB sebesar 33%, dimana angka ini hampir mencapai target Nasional yaitu sebesar 34%, dan angka keberhasilan pengobatan untuk kasus baru dan kambuh sebesar 84% dari target 85%.

“Pelatihan kader TB komunitas merupakan pelatihan yang bertujuan membentuk kader sebagai bagian dari struktur pengendalian TB berbasis masyarakat yang mandiri,” ujar Kiki dalam rilisnya, Rabu (7/12/2016).

Sedangkan fungsi dari pelatihan ini adalah untuk memberikan bekal yang cukup kepada kader dalam melaksanakan kegiatan penanggulangan TB masyarakat sebagai sumber informasi TB, deteksi suspek TB dan kontak serumah, pendampingan pasien TB, pembinaan Pengawas Menelan Obat, pengawasan pengobatan pasien TB, dan monitoring pengobatan pasien TB dengan pencatatan dan pelaporan pasien TB.

“Saat ini paradigma pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan status kesehatan mau tak mau harus melibatkan kader dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam penanggulangan TB dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam pelatihan ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan persuasif yang dikolaborasikan dengan tehnik pembelajaran orang dewasa.

Dalam proses ini fasilitator dituntut untuk lebih aktif dalam melibatkan kader pada semua proses pembelajaran, selain itu fasilitator harus memiliki kemampuan mumpuni dalam material yang disampaikan terutama aplikasi teori penanggulangan TB di lapangan. (Nining)

Biro Semarang