Pengamat Sosial, Budi Santoso: Kemana Kesbangpol Kota Bekasi?

0
57
Budi Santoso

BERITA BEKASI – Bicara pelaksanaan kebijakan daerah urusan bidang ideologi dan kewaspadaan, wawasan kebangsaan, politik dalam negeri merupakan wilayah tugas fungsi dari Pemerintah setempat. Dalam hal ini Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) disetiap Provinsi, Kota/Kabupaten. Hal itu diungkapkan Pengamat Sosial, Budi Santoso, Jumat (20/1/2017).

Menurutnya, melihat keadaan situasi politik kekinian pasca bentroknya dua ormas Front Pembela Islam (FPI) dengan Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) di Bandung Jawa Barat beberapa waktu lalu, belum bisa dikatakan dapat diselesaikan secara tuntas.

Dikatakannya, Kesbangpol Kota Bekasi yang seharusnya menjadi fasilitator dari dampak pertikaian yang terjadi di Bandung, ternyata bisa dikategorikan gagal dalam melaksanakan program wawasan kebangsaan.

“Bahkan, kesbangpol tidak mampu untuk mendeteksi situasi apa yang bakal terjadi dan bagaimana seharusnya sebuah penanganan konflik sosial,” sindirnya kepada Beritaekspres.com, Jumat (20/1).

Ini bukti lanjut Budi, tidak cakapnya pejabat terkait dalam melihat persoalan yang ada. “Terkesan menjadi pembiaran persoalan atau konflik. Pemerintah Kota Bekasi itu tidak pernah tanggap deteksi dini dari persoalan sosial yang bakal muncul,” ungkapnya.

Mantan aktivis 98 ini melanjutkan, jadi wajar lah kalau managemennya selalu yang dipakai management By Accident Not Management By Planning. Dan memang tidak pernah ada keseriusan dalam tata pengelolahan Managemen Konflik.

Masih kata Budi, masyarakat melalui Kesbangpol tidak pernah dilatih melalui simulasi menyelesaikan Konflik intra atau ekstra di wilayahnya sendiri, baik dalam sekala kecil setingkat RT ataupun setingkat Kota.

“Yang mendasar saja bagaimana masyarakat diperkenalkan identitas sosialnya serta dampak-dampak dari identitas tersebut. Dari bahaya streotype, prasangka dan diskriminasi,” imbuhnya.

Sampai kapan pun tambahnya, Bekasi tidak akan maju berkembang saat Problematika Agama, suku dan Budaya tidak pernah diselesaikan dan tidak  ada keseriusan dari Top Leadernya untuk membuka diri dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial.

“Bekasi butuh penanganan yang konkrit bukan pola-pola Image Building atau pencitraan sematan.” Pungkasnya. (NDI)