Kota Bekasi Sudah Selayaknya Diapresiasi Piala Adipura

0
92
Pendistrian di JL. Ahmad Yani

BERITA BEKASI Komitmen kuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk merubah wajah perkotaan sudah mendapat apresiasi dari warga masyarakat. Beberapa infrastruktur perkotaan mencerminkan ramah lingkungan dan makin nyaman untuk area publik.

Lihat saja, jalur pendistrian di Jalan Ahmad Yani di area Car Free Day (CFD), pendistrian di Jalan Rawa Tembaga menyatu dengan tanggul Kali Pintu Air samping perkantoran Pemkot Bekasi dan area publik lainnya.

“Sudah sepantasnya komitmen kuat itu mendapat apresiasi dari Pemerintah Pusat berupa Piala Adipura. Meski tentu saja masih banyak kekurangan di sana-sini,” jelas Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo kepada Beritaekspres.com, Minggu (22/1/2017).

Dalam pengamatannya secara realita ada komitmen kuat untuk terus melakukan perubahan dalam pembangunan infrastruktur perkotaan sebagai cerminanan Kota Adipura. Bahkan perubahan itu sangat masif dan mulai dirasakan secara langsung oleh warga kota.

Tanpa kepentingan politik lanjut Didit, jelas ada hasil yang memang secara riel terlihat nyata. Meskipun program 1000 taman, kali bersih, biopori, komposing, pendistrian dan membangun taman-taman kota, belum semua terealisasikan hingga akhir tahun 2016 lalu.

Menurutnya, dalam penilaian Adipura tahun 2015, Kota Bekasi hanya berhasil mendapat Sertifikat Adipura, karena berhasil melakukan perubahan yang signifikan. Kota Bekasi hanya terpaut 6 poin dengan nilai 64,84 poin dengan standar batas nilai poin untuk mengantongi Piala Adipura sebanyak 70 poin untuk katagori kota metropolitan sedang.

“Kalau dalam penilaian tahun lalu (2015) hanya mendaptkan Sertifikat Adipura, dengan perubahan yang seperti ini sudah sepantasnya Piala Adipura disandang Kota Bekasi dan lihat saja jika semua pengerjaan infrastruktur perkotaan sudah selesai pasti hasilnya lebih tertata,” jelasnya tanpa melihat sebelah mata mana hasil dan mana untuk kepentingan pencitraan.

Apalagi lanjut Didit, syarat penilaian Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) diperketat, namun Pemkot Bekasi punya komitmen kuat memenuhi syarat tersebut. Syarat utama daerah harus memenuhi angka 7 persen dalam pengolahan sampah organik dan anorganik.

Revitalisasi pengolahan sampah langsung dari sumbernya harus dengan prinsip 3 R yaitu reduce (menggunakan kembali), reuse (mengurangi) dan recycle (mendaur ulang). Kemudian, kualitas udara, sistem transportasi dan rencana transportasi ke depan (moda transportasi). Kualitas sungai harus memenuhi baku mutu dan pemenuhan ruang terbuka hijau (RTH).

Semua syarat tersebut harus menyatu dengan kebersihan, keteduhan, dan kondisi lingkungan hidup di sejumlah lokasi yang menjadi titik pantau meliputi jalan protokol, jalan arteri, perumahan, permukiman, sekolah, puskesmas, rumah sakit, perkantoran, terminal, pasar, taman kota, sungai dan, TPS, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Ibaratnya sambung Didit, semua Kabupaten/Kota yang mendapatkan Piala Adipura juga menunjukkan ketatakotaan yang baik, bersih, asri, hijau royo-royo dan pasti teduh, nyaman dan aman sebagai hunian yang manusiawi dan menyatu dengan lingkungan. “Semua itu juga harus didukung anggaran, hukum dan kebijakan Pemerintah Daerah,” terangnya.

Kemarin tambahnya, Pemkot Bekasi dapat penghargaan penyelenggara CFD terbaik dan terbanyak se-Indonesia, itu juga bukti area publik makin representaif dan digemari warga. “Pasti semua warga kota berkeyakinan kali ini Kota Bekasi sudah sepantasnya diganjar Piala Adipura.” Pungkasnya. (CR-1)