Diduga Pengelolaan BRT Kota Semarang Tak Transparan

0
371
Bus BRT Kota Semarang

BERITA SEMARANG – Akhir tahun lalu Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah mendapat bantuan bus baru dari pemerintah pusat sebanyak 25 bus besar, dimana 20 bus besar telah dioperasikan di Koridor 1 (jurusan Mangkang-Penggaron) dan 5 bus lainnya masih dalam persiapan operasional.

Ketua LSKP (Lembaga Study Kebijakan Publik), Rifai mengatakan bahwa dalam pengelolaan bus baru tersebut diduga Badan Layanan Umum (BLU) yang saat ini mengelola BRT (Bus Rapid transit) tidak transparan.

“Dengan dibukanya beberapa koridor angkutan BRT, Kota Semarang dalam transportasi harusnya sudah tidak perlu pusing lagi, namun yang jadi masalah adalah bagaimana mengelola BRT yang benar,” ujar Rifai saat ditemui di Semarang, Senin (13/2/2017).

Diketahui saat ini untuk pengelolaan koridor 3 dan 4 sedang dalam pemeriksaan pihak Polrestabes Semarang, karena dugaan tindakan korupsi.

Dirinya mengaku telah mencium adanya dugaan pelanggaran dalam pengelolaan BRT koridor 1 yang telah habis masa kontraknya, namun kenyataannya pengelolaan tersebut masih berada dalam tangan PT Mahesa Jaya Perkasa dengan penunjukan langsung.

Dalam periode sebelumnya (November-Desember) pengelolaan tersebut dilelangkan dan dimenangkan oleh PT Mahesa Jaya Perkasa dengan nilai kontrak Rp 1,6 Miliar.

“Namun apakah diakhir masa pengoperatoran sudah ada LPJ dari PT Mahesa Jaya Perkasa ke BLU Kota Semarang?,” tandasnya.

Sementara pada periode Januari-Pebruari sebagai masa transisi pengelola unit operasi(operator) koridor 1 yang menggunakan bantuan armada dari Kemenhub sebanyak 25 bus besar.

“Andai itu dipihak ketigakan pakai dasar hukum apa BLU?, apa boleh jika dengan penunjukan langsung? karena kami mendengar informasi yang mengelola operasi (operator) di koridor 1 adalah operator yang lama,” pungkasnya. (Nn)

Biro Semarang