Duduk Dipesakitan, Cucu Pahlawan Prof. DR. Moestopo Minta Keadilan

0
94
Romualdus Kusumanto

BERITA JAKARTA – Nasib Romualdus Kusumanto, cucu dari pahlawan nasional Mayen TNI (Purn) Prof. Dr. Moestopo benar-benar mengenaskan. Pasalnya ia dituduh merusak kamera CCTV diruang kerjanya dan mencuri mobil dinas, sehingga berurusan dengan hukum.

Romualdus menyatakan, kekesalannya terhadap Ketua Pembina Yayasan kakeknya tersebut karena tega-teganya menyeret dirinya ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat duduk sebagai pesakitan.

Romualdus yang didampingi kuasa hukumnya mengatakan, dirinya dizholimi, karena dituduh telah merusak kamera CCTV dan mencuri mobil dinas. “Saya tidak pernah melakukan hal itu. Tuduhan itu tidak benar,” ucap lelaki berusia 42 tahun ini sedih usai sidang, Kamis (2/3/2017) kemarin.  

Sambil mengusap air matanya “Kok, tega-teganya, ya, saya diperlakukan seperti ini,” ungkapnya ririh dengan nada pelan.

Dirinya menduga tuduhan ini tidak lain, karena pernah mencoba mengorek-ngorek soal sejumlah dana investasi Yayasan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan. ”Ya, apakah karena persoalan itu saya dibuat seperti ini ?” Tanya Pak Kus yang menjabat sebagai pembina Yayasan tersebut.

Terus terang lanjutnya, dirinya merupakan korban kesewenangan. Sebab sudah ada beberapa keluarga saya yang nasibnya sama dengan saya.

Romualdus pun sambil mohon agar dirinya dapat dibebaskan dari tuduhan itu karena tidak pernah melakukan perbuatan sebagaimana yang dituduhkan. “Saya mohon dibebaskan, karena ini menyangkut masa depan saya,” tegasnya.

Menurutnya dirinya tidak tahu kalau di ruangan kerjanya dipasang kamera CCTV. “Ya, memang sebelumnya saya diinformasikan kalau ada kamera, tapi, ketika itu saya mencari dengan menggunakan gagang sapu, tapi tidak ketemu. Jadi bagaimana merusak?,” katanya.

Begitu juga soal mobil, dirinya menyatakan tidak mencuri, karena mobil itu setelah dipakai kepentingan dinas selalu ditaruh dikantor dan kunci serta STNKnya diserahkan ke Satpam. ”Jadi dimana letak mencurinya,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan kuasanya hukumnya dalam nota keberatannya ia menyebutkan antara lain kalau tuduhan itu merupakan rekayasa, karena hanya semata untuk melengserkan kliennya dari kepengurusan yayasan. “Untuk itu, kami mohon agar Majelis hakim menolak tuduhan tersebut,” tandas Pramataram.

Dalam kasus ini, terdakwa dituduh Jaksa Marlina Samosir melakukan hal tersebut di rumah Janda Moestopo, RA Soepartien Moestopo dan kantor Yayasan di Jalan Hanglekir I No 8, Jakarta Pusat pada Januari 2015.

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim di Ketuai Victor Pakpahan, masih memeriksa keterangan saksi-saksi. (Bambang)