Polisi Pasang Police Line Rumah Janda Dirampas Paksa di Bekasi

0
184
Garis Polisi

BERITA BEKASI – Reskrim Polres Metro Bekasi Kota akhirnya memasang Police Line rumah yang menjadi sengketa milik seorang janda tua, Erna Pasaribu Simanjuntak (82) yang beralamat di Jalan Pulo Sirih Raya Blok AE/51 RT12/RW13, Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, buntut dari pengusiran secara paksa yang dilaporkan kliennya.

“Police Line itu jawaban dari laporan kita ke Polres Metro Bekasi Kota. Dan kita ingin persoalan ini diproses lebih lanjut, karena menggunakan cara-cara yang tidak mencerminkan bahwa Negara kita merupakan Negara hukum,” ujar kuasa hukum korban, Syahban Siregar kepada Beritaekspres.com, Senin (6/3/2017).

Dirinya mengingatkan, kepada semua pihak yang berkaitan dengan perkara kliennya untuk tetap menghormati hukum. “Artinya yang berhak melakukan sita terhadap suatu objek perkara adalah juru sita Pengadilan, bukan mengeksekusi sendiri,” katanya.

Erna Pasaribu Boru Simanjuntak
Erna Pasaribu Boru Simanjuntak

Dijelaskan Syahban, kliennya di datangi sekitar 30 orang yang mengatasnamakan Zainal Abidin dan minta agar pemilik rumah juga ada beberapa orang saksi untuk keluar dari rumah. “Barang – barang seperti TV, Kulkas, Kasur, Lemari dan perabotan rumah lain milik kliennya pun dibawa para pelaku,” ungkapnya.

Bukan hanya kata Syahban, para pelaku juga langsung memasang pagar seng keliling rumah milik kliennya serta memasang plang pengumuman yang bertuliskan tanah dan bangunan ini milik Zainal Abidin berdasarkan SHM Nomor:10581/Pekayon Jaya dan penetapan Pengadilan Negeri (PN) Bekasi Nomor 04/CB Del/2002 jo Nomor 15/Pdt.G/2002/PN.Jkt.Pst.

“Anehnya, korban sendiri ngak pernah tahu tentang hal itu. Korban tahunya memang dia punya hutang dan menjaminkan sertifikat rumah miliknya yang tahu-tahu sekarang sudah berubah nama,” imbuhnya.

Oleh karena itu tambah Syahban, dirinya saat ini tengah mencari tahu adanya perubahan kepemilikan sertifikat rumah milik kliennya yang menjadi dasar main hakim sendiri, sehingga kliennya harus terusir secara paksa dan barang – barangn milinya pun ikut diambil.

“Saat ini kita tengah telusuri bagaimana ceritanya sertifikat itu bisa berbalik nama dan adanya proses Pengadilan dalam persoalan kliennya,” pungkas Syahban. (Indra)