Alami Penyakit Serius, Dua Warga Dibesuk Walikota Bekasi

0
196
Walikota Bekasi Dr. H. Rahmat Effendi

BERITA BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi akan menanggung biaya Ramadhan Dirfansah, putra ketiga pasangan Saidah (36) dan Rohadirta (38), sudah empat tahun bertahan hidup tanpa anus. Warga RT5/RW24, Kampung Poncol, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat yang mengalami kelambatan tumbuh kembang. 

“Sudah kita bawa ke RSUD Kota Bekasi untuk mendapat tindakan medis lebih lanjut,” ujar Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, saat mendatangi kediaman Keluarga Rahamdhan, Kamis (9/3/2017).

Rahmat Effendi, yang sebelumnya juga mendatangi Herman, warga RT005/RW02, Kelurahan Pekayonjaya, Kecamatan Bekasi Selatan yang divonis terserang tumor ganas sejak dua bulan lalu.

Rahmat yang tiba dikediaman Herman, langsung meminta Kepala Dinas Kesahatan dan RSUD Kota Bekasi agar memberikan perawatan secara intensif bagi kedua warga Kota Bekasi tersebut.

“Sudah, sekarang Bapak dan Ibu jangan takut, soal biaya akan ditanggung Pemerintah Kota Bekasi,” ujar Rahmat, kepada Herman dan Istri, sembari mengintruksikan Dinas terkait mengambil tindakan segera.

Ramadhan Bocah Penderita Anus
Ramadhan Bocah Penderita Anus

Pihak keluarga Herman dan Ramadhan pun merasa terharu, saat kedatangan rombongan Walikota Bekasi Rahmat Effendi yang tiba dikediaman mereka di dua lokasi berbeda. Terlebih saat Rahmat memberikan bantuan bagi keluarga mereka.

Diketahui, Ramadhan lahir pada 7 Agustus 2012 dengan kelainan anus imperforata. Kelainan terjadi ketika tidak ada pembukaan di ujung saluran pencernaan atau tidak ada lubang di anus. Belum diketahui penyebab pasti kelainan ini, namun diperkirakan hal ini terjadi pada satu dari 5.000 bayi.

Sang ayah, Rohadirta menuturkan, putra bungsunya lahir pada Agustus 2012 di RSUD Kota Bekasi. Ia lalu dirujuk ke RSCM atau Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Ramadhan sudah menjalani perawatan di RSCM selama tiga tahun.

“Sejak lahir di RSUD Kota Bekasi langsung disuruh ke RSCM karena di RSUD peralatannya belum komplit, dokter poli bedah anaknya nggak ada. Lahir tiga hari langsung operasi bikin lubang anus di bawah perut sebelah kiri,” ujar Rohadirta. 

Dokter sudah melakukan kolostomi atau pembuatan lubang buatan di bagian bawah perut untuk membuang kotoran yang ada di dalam tubuh si anak pada tahun 2012. Selang setahun, Ramadhan juga menjalani operasi pembuatan anus di RSCM.

Akan tetapi, hingga kini belum ada perkembangan sama sekali. Sampai usia 4 tahun, Ramadhan masih mengeluarkan kotoran lewat lubang di bagian bawah perut yang dibalut kain. Tiap bulan, ia membutuhkan dua pak kain kasa. Lubang di anusnya sudah dibedah, tapi tidak bisa berfungsi lantaran terlambat mendapat perawatan pascaoperasi.

“Tahun 2013 dibedah di RSCM, tapi karena telat beli alatnya, jadi lubang anus yang sudah dibuat malah menciut lagi. Harusnya tiga bulan setelah pembuatan lobang anus di pantat, tapi ini satu tahun kemudian baru beli karena lumayan mahal,” ujar Rohadirta. 

Orang tua Ramadhan tidak mempunyai kecukupan dana. Biaya perawatannya bisa menelan dana sampai Rp6 juta, Rohadirta sendiri sehari-harinya hanya berprofesi sebagai Satpol PP Kota Bekasi. Penghasilannya Rp2,2 juta per bulan. Dipotong untuk biaya pengobatan anak, gajinya tiap bulan hanya tersisa Rp50 ribu.  

“Biar lebih terkontrol, dan keluarganya juga tidak perlu repot bulak balik, maka kita rawat di RSUD, kasihan mereka,” pungkas Rahmat Effendi. (NDI)