Dorong Minat Baca, Banyuwangi Gelar Festival Sastra

0
10
Djadjat Sudrajat

BERITA BANYUWANGI – Banyuwangi yang dikenal sebagai daerah seribu festival, Rabu (26/4/2017) kemarin resmi membuka gelaran festival sastra. Ajang yang masuk dalam agenda ‘Banyuwangi Festival 2017’ akan berlangsung selama empat hari, 26-29 April 2017 yang dipusatkan di depan Stadion Diponegoro, Jawa Timur. Kegiatan ini menarik minat ratusan pelajar penggemar sastra.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banyuwangi Djadjat Sudrajat mengatakan, kegiatan ini, merupakan salah satu media yang sangat positif bagi perkembangan kreativitas, disamping sebagai sarana penyaluran bakat dan minat anak-anak kita, khususnya untuk meningkatkan literasi, juga meningkatkan jiwa sportifitas dan kreatifitas bagi generasi muda di tengah-tengah masyarakat dengan arus modernisasi yang begitu kuat dan sarat dengan nilai-nilai negativ.

“Membaca itu sangat penting, ini akan bisa menjadi inspiratif semua. Dengan membaca akan terbentuk kemampuan berfikir yang lebih berkualitas melalui suatu proses, seperti, menangkap gagasan, informasi serta dapat memahami, mengimajinasikan, mengekspresikan dan selanjutnya menjadi lebih kreatif,” terangnya kepada Beritaekspres.com, Kamis (27/4/2017).

Pembukaan ini diisi antara lain dengan acara lomba mewarnai yang diikuti 500 anak-anak TK se-Banyuwangi. Rangkaian kegiatan festival sastra ini akan berlangsung mulai 26 – 29 April 2017 di kantor perpustakaan.

Festival sastra ini juga akan diisi dengan lomba membaca puisi, bercerita dan lomba membaca biofgrafi mini pahlawan dan tokoh-tokoh naisonal  yang diikuti ratusan siswa dari tingkat SLTP dan SLTA.  

“Inilah waktunya, penggemar sastra, para pembaca bertemu dengan penulis dan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Sekaligus even ini juga wadah bagi pelajar untuk mengembangkan potensi dirinya dalam kesusasteraan,” ujar Djajat.

Sejumlah sastrawan nasional juga hadir pada festival tersebut. Mereka tidak hanya melakukan penjurian, tapi juga memberikan motivasi dan pelatihan singkat tentang puisi dan kesusasteraan. Yang hadir antara lain, “si clurit emas” Zawawi Imron dan pemenang Khatulistiwa Award Hasan Apsahani.

Terpisah, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, acara ini digelar untuk meningkatkan kemampuan literasi warga, khususnya pelajar Banyuwangi.

Menurut dia, keterampilan menulis akan semakin terasah dengan kebiasaan membaca. Kedua budaya ini menulis dan membaca, imbuh dia,  memang tak terpisahkan sekaligus juga masih perlu ditingkatkan di Indonesia.

“Kami percaya segala hal bermula dari membaca. Menulis dan membaca sebenarnya adalah sesuatu yang natural. Karena itulah, saya merasa perlu menghadirkan festival sastra di Banyuwangi. Saya berharap, festival ini bisa mendorong lahirnya generasi penerus pembaca dan penulis dalam negeri,” ujar Anas.

Bupati Anas saat ini tengah menghadiri seminar Leadership Enhancement di Universitas GRISP di Tokyo Jepang sejak dua hari lalu.

Ditambahkan Anas, pemilihan sastra sebagai sarana pendorong minat baca juga bukan tanpa alasan. Mengacu pada data yang dirilis oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, selama tahun 2016, jumlah peminjam buku di perpus didominasi oleh buku kesusasteraan.

“Ada sekitar 40,2 persen peminjam buku di perpustakaan Banyuwangi itu meminjam buku sastra. Dari sini, kita berpikir bahwa sastra bisa menjadi pendorong seseorang untuk suka membaca ketimbang dengan jenis bacaan lainnya,” terang Anas.

Selain itu, imbuh Anas, berdasarkan beberapa hasil penelitian, seorang yang suka membaca buku sastra akan menjadikan orang lebih berpikiran luas.

“Orang yang suka membaca sastra lebih memiliki pemikiran yang terbuka dari pada yang tidak suka membaca sastra. Oleh karena itu, ini penting ditekankan sejak dini, agar anak-anak Banyuwangi tidak terjebak dalam pemikiran sempit yang saat ini marak terjadi,” ungkapnya seraya mengutip hasil penelitian ilmuwan Universitas Toronto, Kanada Maja Djiki yang dipublikasikan di Creativity Research Journal. (Eko)

Biro Banyuwangi