Jelang HPN, DPD GPPMP DKI Gelar Seminar Bela Negara

0
114
Karel Tumuju, SH, MH (Kiri)

BERITA JAKARTA – Hukum dan HAM DPD Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP) 14.2.1946 DKI Jakarta, menggelar kegiatan Seminar Bela Negara. Kegiatan Seminar Bela Negara ini, merupakan serangkaian dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (HPN) pada tanggal 2 Mei 2017 yang berlangsung di Auditorium IBM ASMI Pulo Mas Jakarta dengan tema “Arti Penting Pendidikan Bela Negara Bagi Pemuda dan Masyarakat Umum”, Sabtu (29/4/2017) kemarin.

Kepada Beritaekspres.com, Ketua Pelaksana, Karel Tumuju, SH, MH, mengatakan, menurunnya semangat bela negara pada generasi muda, sehingga seminar ini, nantinya akan mampu memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai bela negara yang berpola Kebhinekaan kepada pemuda dan masyarakat umum dalam lingkup Provinsi DKI Jakarta, khususnya DPD GPPMP 14.1946 DKI Jakarta.

Selain itu sambung Karel, seminar ini juga bertujuan mengajak seluruh anak bangsa untuk membangun Negara itu dibutuhkan jiwa patriot atau kepahlawanan, siap untuk berkorban membela dan mempertahankan serta membangun negara tanpa diminta, bukan merusak atau menggerogoti negara sebagaimana layaknya pengkhianat bangsa.

“Seharusnya, aksi Bela Negara tidak hanya dilakukan dengan berteriak-teriak semata, tetapi harus dengan tindakan nyata. Contohnya, melestarikan budaya bangsa Indonesia, taat akan hukum, meningkatkan rasa nasionalisme, belajar menghargai orang lain dan sebagainya,” terang Karel ketika berbincang dengan Beritaekspres.com, Senin (1/5/2017).

Ditekankan Karel, jiwa patriot harus ditanamkan sejak usia dini dimanapun dan kapanpun serta terus menerus disosialisasikan dalam setiap aspek kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. “Diharapkan nantinya, melalui seminar ini, akan mampu menambah wawasan dan pengetahuan, khususnya terkait dengan masalah peningkatan kesadaran bela Negara,” katanya. 

Berbicara mengenai belajar lanjut Karel, sebentar lagi kita akan memperingati Hari Pendidikan Nasional (HPN) pada tanggal 2 Mei 2017. Setiap tahun, kita memperingatinya, namun banyak diantara kita masih belum memahami dan mengerti bahkan mengabaikan peristiwa tersebut.

Menurutnya, bila kita mau merenungkan segala upaya guru besar kita Bapak Ki Hajar Dewantara yang menerobos dan mengubah tatanan cara berpikir lama menjadi maju dan dapat berjalan beriringan sesuai dengan berjalannya waktu, sehingga saat ini kita dapat menikmati ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang semakin lama semakin maju.

Bila kita gabungkan dengan Bela Negara, maka jelaslah bahwa sumbangsih yang diberikan pendahulu-pendahulu kita adalah untuk memajukan kualitas dan kuantitas generasi muda dan generasi pendatang yang cinta akan bangsa dan negaranya yang akan berjuang demi tanah airnya dengan jujur, iklas dan bermartabat.

Komitmen kemanusiaan dan kebangsaan tertulis nyata diatas bentang perjalanan usia dan terpatri kuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Dengan tanpa menyinggung peran kongkritnya dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik tanpa melupakan arti penting peran kader-kader Bangsa Indonesia yang berjuang secara individual dan menjadi tokoh besar di berbagai bidang dalam zamannya masing-masing.

Dilanjutkan Karel, rasa cinta tanah air atau nasionalisme dalam kegiatan ini merupakan rasa bangga, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati dan loyalitas yang dimiliki oleh setiap individu pada Negara tempat kita tinggal tanpa melihat suku, agama dan golongan yang tercermin dari perilaku membela tanah airnya.

“Yaitu rela berkorban untuk menjaga dan melindungi tanah air, mencintai adat atau budayanya dengan melestarikan alam dan lingkungan. Rasa cinta tanah air inilah yang mendorong perilaku individu untuk membangun negaranya dengan penuh dedikasi,” imbuhnya.

Kegiatan Bela Negara seperti ini, sangat penting untuk mahasiswa dan masyarakat umum khususnya untuk menumbuhkan kesadaran bela negara yang banyak orang yang berteriak-teriak akan membela tanah airnya, akan membela negaranya, ingin menciptakan kedamaian bagi negaranya, tapi apa yang terjadi?, justru mereka sendiri yang menciptakan kerusuhan, rasa tidak nyaman bagi masyarakat disekitarnya, bahkan pengrusakan terhadap negaranya sendiri.

“Di alam reformasi saat ini, justru jiwa patriot dan kepahlawanan bangsa Indonesia mulai memudar, banyak indikasi yang mengarah kepada hal tersebut, seperti adanya kasus korupsi, suap, mementingkan diri sendiri, kelompok atau partai yang menggambarkan kejahatan manusia,” ungkapnya.

Dalam rangka Seminar Bela Negara ini, berdasarkan dokumentasi sejarah pejuang kemerdekaan Indonesia antara lain sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan kejadian yang membuktikan adanya partisipasi seluruh rakyat yang berjuang dari Sabang sampai Merauke dalam revolusi fisik menegakkan dan mempertahankan Kemerdekaan Bangsa kita, dengan demikian Peristiwa tersebut patut dikenang sepanjang masa dengan cara memperingati setiap tahunnya agar dapat diambil hikmatnya.

Denny Karel yang tengah menangani kasus Enji dengan Ayu Ting Ting in menghimbau kita semua Generasi Penerus Bangsa agar dapat mengkaji kisah-kisah kepahlawanan para pendahulu kita untuk menarik pelajaran yang bermanfaat demi keberhasilan pembangunan Nusa dan Bangsa sekarang ini dan akan datang.

Dirinya mengapresiasi tambah Karel, kepada seluruh peserta yang hadir dalam seminar ini. “Ucapan terima kasih juga buat Ketua DPD GPPMP 14.02.1946 Provinsi DKI Jakarta Ibu Yunita Kaunang yang langsung menanggapi untuk membentuk kepanitiaan Seminar Bela Negara,  dan khususnya kepada seluruh Panitia yang telah melaksanakan Acara Seminar Bela Negara ini dapat mewujudkan eksistensinya sebagai Organisasi kemasyarakatan dan senantiasa menjadikan poros kegiatannya pada hal-hal yang dapat meningkatkan pembinaan potensi sumber daya manusia diberbagai sektor, terutama dalam konteks kesadaran berbangsa dan bernegara,” tandasnya.

Diketahui seminar Bela Negara yang berlangsung menghadirkan pembicara-pembicara yang mumpuni di bidangnya diantaranya, Benny Tengker Tonaas Tua Wangko Papendangan, Laksma TNI M. Faisal, SE, MM, Direktur Bela Negara Ditjen Pothan Kemhan RI yang diwakili Letkol Firdaus Subdit Lingdik Bela Negara, Brigjen TNI(Purn) Augustinus R. Wetik, E. Eryani Hoesien. MBA Tenaga Ahli SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Seminar pun dihadiri antara lain, kalangan mahasiswa dan juga masyarakat umum seperti, pengurus DPP/DPD/DPC GPPMP, Ormas GMKI, Garda Manguni, AMPI, LMI (Laskar Manguni Indonesia), Kawanua Comunity, Mahasiswa ASMI, MI (Manguni Indonesia), Mahasiswa AMI, Kerukunan Keluarga Kawanua, Kerukunan Keluarga Kawanua Jakarta, dan Forum Bela Negara Kemenhan RI. (Zde)