Merasa Ditipu, Pengembang Grand Galaxi City Dipolisikan Konsumen

0
2037

BERITA BEKASI – Konsumen property mengaku ditipu hingga miliaran rupiah oleh pengembang nakal. Pasalnya, sampai batas waktu pelunasan angsuran Rumah dan Kantor (Rukan), pihak pengembang Grand Galaxy City yang berlokasi di Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi itu belum juga menerbitkan surat Akta Jual Beli (AJB) dan Sertifikatnya.

Setia Horas Tambunan merupakan salah satu dari sekian banyak konsumen Rukan Grand Galaxi City yang berani mengungkap tabir dugaan adanya praktik penipuan yang dilakukan salah satu pengembang property besar itu.

Horas mempertanyakan haknya yaitu AJB dan Setifikat atas bangunan berlantai tiga di Jalan Boulevard Raya Rukan Sporadis di Blok EB 140B, Grand Galaxy City yang dibelinya melalui sistem angsuran sejak 2011 lalu.

Namun perjuangan Horas untuk menuntut legalitas hukum tempat tinggalnya selama bertahun-tahun diangsur dengan keringat jerih payahnya itu tidak mendapat respon dari pihak pengembang

“Awal tahun 2013 saya melakukan transaksi serah terima unit atas Rukan yang sudah saya beli melalui angsuran bertahap selama 60 kali,” terangnya kepada Beritaekspres.com, Kamis (15/6/2017).  

Kemudian saya sambungnya, bertanya kapan kira-kira sertifikat itu bisa saya terima. Mereka menjawab, setelah melunasi angsuran selama 60 kali dan menerima surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) pada bulan Maret tahun 2013 lalu.

Setelah kewajibannya sebagai konsumen telah dipenuhi tepatnya tahun 2015 lalu, Horas kembali mendatangi kantor pemasaran Grand Galaxy City untuk mempertanyakan AJB dan Sertifikat Rukannya.

Ironisnya, upaya tersebut kembali kandas dan malah mendapat ketidak jelasan informasi dari pihak pengembang yakni PT. Cipta Sedayu Indah (Agung Sedayu Group). Bahkan, kerap kali mempertanyakan kelengkapan surat Rukannya itu selalu diombang-ambing sejumlah pegawai di kantor pemasaran.

“Tanggal 11 bulan 2 tahun 2015 lalu, kembali saya mempertanyakan perihal surat atas Rukan yang saya beli. Dan diterbitkan surat dari manajemen yang mengurus sertifikat masih dalam pemecahan. Sertifikat tersebut dengan nomor surat:050/sk/SAD.AJB-MKT/GGC/XII/2014, dengan keterangan bahwa sertifikat masih dalam proses pemecahan,” ungkapnya.

Kemudian lanjut Horas, saya diminta untuk menanyakan kepada kantor pusat PT. Agung Sedayu Group (ASG). Dari sana mereka  (PT. ASG) justru malah meminta saya menayakan kembali kepada pihak pengelola di Grand Galaxy City,” jelasnya kecewa.

Akhirnya, dengan didampingi kuasa hukumnya Horas kemudian melaporkan kejadian ini kepada Kepolisian Resort Bekasi Kota dengan Nomor:LP/376/K/V/2017/SPKT/Restro Bekasi Kota. Langkah hukum yang ditempuhnya ini sebagai upaya mencari keadilan, karena merasa ditipu senilai Rp1,2 miliar oleh pihak pengembang.

Selain itu, pengembang juga tidak menunjukkan itikad baik untuk dapat menyelesaikan persoalan AJB dan Sertifikat kepada para konsumennya. “Kan bisa saja pihak pengembang menjualnya kepada perusahaan lain. Karena, selama ini Rukan yang kami tempati, berdiri diatas tanah ‘bodong’,” ungkapnya lagi.

“Jalur hukum ini saya tempuh karena selama ini tidak ada itikad baik dari pihak pengembang untuk menerbitkan AJB dan Sertifikat, Rukan yang telah saya beli.

Menurut saya sambung Horas lagi, ini sudah merupakan tindak pidana. Karena, sebagai konsumen saya telah dirugikan sebesar Rp1,2 miliar lebih tanpa punya alas hukum yang jelas. Banyak para pemilik Rukan yang bernasib sama dengan saya, tetapi mereka mungkin belum berani mengungkap tabir ini,” imbuhnya.

Terpisah, Marketing PT. Agung Sedayu Group, Dewo membantah bahwa Rumah dan Kantor (Rukan) Grand Galaxy City, tidak dilengkapi surat AJB dan Sertifikat. Karena, setiap transasksi pembayaran oleh konsumen sebesar 20 persen, maka pihak pengelola akan menerbitkan AJB.

“AJB ada. Setiap pembayaran dua puluh persen akan diterbitkan oleh pihak pengelola,” kilahnya ketika dihubungi.

Sebab, terkait kelengkapan surat-surat bangunan rumah dan kantor itu dikatakan Dewa merupakan kewenangan pihak pengelola. Menurut dia,  marketing hanya melakukan input data penjualan.

“Kalau marketing itu kan tidak bisa menentukan waktu penerbitan AJB. Karena, kita (marketing) hanya menginput data penjualan saja, selebihnya kalau ada kendala teknis itu dikembalikan kepada kewenangan pihak pengelola,” pungkasnya. (Boy)