Belum Muncul Figur Fenomenal Petahana Jadi Sentral

0
110
Dr. H. Rahmat Effendi

BERITA BEKASI – Hampir semua Partai Politik (Parpol) pemilik kursi di DPRD Kota Bekasi sudah melakukan penjaringan Bakal Calon (Balon) Walikota dan Wakil Walikota Bekasi 2018-2023. Namun hingga kini, masih dominasi muka-muka lama dan beberapa pendatang baru.

Sayangnya, para balon pendatang baru yang muncul dalam pertarungan Pilkada Kota Bekasi 2018 mendatang itu, belum memiliki daya jual politik, sehingga Petahana Walikota Rahmat Effendi masih menjad sentral dan memliki daya tarik politik tersendiri.

“Realitanya seperti itu, dari semua pergerakan politik makin menguntungkan Petahana, sehingga sulit muncul rival yang seimbang,” terang Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo kepada Beritaekspres.com, Senin (19/6/2017).

Menurutnya, beberapa balon yang muncul kebanyakan masih figur musiman. Artinya kemunculannya hanya saat pra hajatan Pilkada, sehingga perlu waktu yang panjang untuk mendekati pemilih dan meningkatkan popularitas.

“Termasuk kemunculan beberapa artis yang hanya memanfaatkan karena pentas panggung hiburan politik, bukan ke arah kontestasi Pilkada,” ungkapnya.

Dijelaskan Didit, peta perpolitikan masih menunggu figur yang dapat rekomendasi dari penjaringan PDIP. Sebagai pemilik tiket (12 kursi DPRD) dipandang akan menjadi rival Petahana yang seimbang apalagi jika muncul nama mantan Walikota Mochtar Mohamad (M2).

“Saat ini sudah terbentuk tiga kekuatan yaitu PDIP (12 kursi), Koalisi Merah–Putih PKS- Gerindra (13 kursi) dan Koalisi Karya Pembangunan P Golkar-PPP (12 kursi),” katanya.

Masih kata Didit, penjaringan balon yang masih berlangsung di PDIP, PAN, Gerindra sementara Hanura, PPP akan segera membuka penjaringan.

“Diperlukan balon yang kompetitif untuk ikut kontestasi Pilkada agar ada perubahan peta politik dalam menyeleksi figur-figur terbaik untuk beradu gagasan, ide, visi-misi dan konsep perubahan ke arah Bekasi yang lebih baik,” jelasnya.

Didit menegaskan, dalam kontestasi Pilkada, memang siapapun punya hak politik yang sama. Namun, publik sebagai pemilik suara dan hak veto politik harus tahu track record (rekam jejak) balon.

Meliputi kiprahnya sambung Didit, empati dan kepedulian bukan sekedar mengejar syawat kekuasaan semata namun diperlukan sikap mengabdi untuk mensejahterakan masyarakat Kota Bekasi ke arah lebih baik.

“Hak publik untuk asal senang ngefan ke figur artis, figur musiman atau figur yang representatif. Jadilah pemilih cerdas yang mana bisa berkarya lebih baik,” tutur Didit.

Diuraikan Didit, untuk memimpin Kota Bekasi yang makin komplek diperlukan pemimpin yang berani melawan arus dan visioner. Setidaknya balon yang muncul berani beradu ide, gagasan dalam dinamiika berpolitik yang bermartabat.

“Memiliki integritas, intelektualitas, visioner, leadership, pengalaman prestatif, keberanian,  komunikasi publik, aspiratif dan responsif, penermaan publik dan penerimaan Partai,” imbuhnya.

Ditandaskan Didit, belum munculnya figur yang mumpuni seperti Ahmad Syaikhu, Mochtar Mohamad makin menjadi tarik Parpol dan figur mendekat Petahana Rahmat Effendi. “Mereka bertiga saat ini menjadi poros kekuatan politik utama,” pungkas Didit. (Indra)