Patrialias Akbar Dituntut Jaksa KPK Hukuman 12,5 Tahun Penjara

0
15
Patrialis Akbar

BERITA JAKARTAMantan hakim Konstitusi Patrialis Akbar dituntut 12,5 tahun penjara ditambah dengan Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan karena dinilai terbukti menerima suap untuk pengurusan uji materi Undang-Undang (UU) Peternakan dan Kesehatan Hewan di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Supaya majelis hakim memutuskan dan menyatakan terdakwa Patrialis Akbar terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Lie Putra Setiawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (14/8/2017).

Dan sambungnya, menjatuhkan pidana terhadap Patrialis Akbar berupa penjara selama 12 tahun dan 6 bulan dan ditambah dengan pidana denda sebesar Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan,” tambahnya dalam tuntan yang dibacakannya.

Tuntutan yang dibacakan Jaksa itu, berdasarkan dakwaan pertama dari Pasal 12 huruf c jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan korupai jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain pidana penjara, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menuntut Patrialis Akbar mantan Ketua MK ini, untuk membayar uang pengganti sejumlah harta benda yang diperolehnya dari tindak pidana korupsi.

“Menghukum terdakwa Patrialis Akbar membayar uang penganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi aquo yaitu sejumlah 10 ribu dolar AS dan Rp4,043 juta,” tegas Jaksa.

Dengan ketentuan lanjutnya, apabila terdakwa tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1 bulan sesudah putusan Pengadilan berkekuatan hukum tetap maka harta bendanya akan disita oleh Jaksa untuk dilelang dan bila tidak mencukupi akan dipidana selama 1 tahun penjara.

Pertimbangan Jaksa, perbuatan terdakwa tidak mendukung program Pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi. Perbuatan terdakwa selaku hakim telah merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan khususnya MK. “Terdakwa juga berbelit-belit dalam memberikan keterangan di muka Persidangan,” ungkap Jaksa.

Menanggapi tuntutan itu, Patrialis Akbar mengatakan, dirinya akan mengajukan nota pembelaan (Pledoi). Pertama katanya, dirinya mengucapkan Innalillahi wainnailahi rajiun. Karena saya sudah mengungkapkan di Persidangan seluruh fakta-fakta dan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Jaksa.

“Banyak hal yang saya lihat itu adalah fiksi semacam satu karangan-karangan yang dibuat berdasarkan fakta Persidangan,” terang Patrialis seusai sidang.

Nota pembelaan itu tambah Patrialis lebih untuk mengungkapkan fakta. “Nanti Anda bisa lihat dari nota pembelaan saya. Sekali lagi saya tetap menghormati karena memang tugasnya Jaksa ya menuntut orang.

“Sementara tugas saya sebagai terdakwa dan penasihat hukum akan mengungkapkan fakta. Tidak hanya membela, tapi lebih ke mengungkapkan fakta,” pungkas Patrialis. (Bambang)