Anggota Fraksi PDIP, Arteria: Saya Mundur Jika KPK Dibekukan

0
77
Arteria Dahlan

BERITA JAKARTA – Anggota Komisi III DPR-RI Arteria Dahlan dengan tegas mengatakan bahwa dirinya siap mundur jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibekukan. Statemen ini, sekaligus menepis tudingan terhadap diskursus pembekuan atau pembubaran KPK oleh DPR.

Dalam rilisnya, Anggota Fraksi PDI Perjuangan, Arteria menegaskan, tidak ada wacana pembekuan terhadap KPK dari Fraksinya, setelah koleganya sendiri di Fraksi sempat mengeluarkan pernyataan usulan pembekuan KPK. Kritik tajam yang dilontarkan koleganya itu merupakan bentuk kecintaannya pada KPK.

“Kritik tajam dan pernyataan tegas terhadap KPK, tak melulu ditafsirkan sebagai pelemahan. Sebaliknya, itu justru sebagai bentuk penguatan,” kata Arteria, Selasa (12/9/2017) kemarin.

Perlu diketahui sambungnya, bahwa pembicaraannya dalam rapat sekitar 18 menit itu dengan tegas mengatakan, bahwa dirinya siap mundur jika KPK dibekukan.

“Ini merupakan komitmen saya mendukung penguatan dan perbaikan KPK,” ungkap Anggota Pansus Hak Angket KPK, seraya menambahkan, “Saya cinta KPK, Saya cinta NKRI.”

Sebagai anggota Pansus lanjutnya, dirinya ingin minta klarifikasi dan jawaban yang jelas dari KPK menyangkut banyak temuan penyelewengan oleh para penyidik KPK.

Pada bagian lain kata, politisi dari Dapil Jatim VI itu, juga mengeritik para komisioner KPK yang tak mengembangkan dialektika kebangsaan dalam sebuah rapat resmi kenegaraan.

Maksudnya, Arteria mengeritik keras para komisioner yang tak menyebut para anggota DPR dengan kata “yang terhormat” saat pertama menyampaikan paparan di hadapan rapat.

“Yang terhormat” tidak dimaksudkan sebagai gila hormat atau ingin dihormati, kilah mantan Anggota Komisi II dan VIII DPR ini. “Tetapi, ini lebih mengingatkan kepada kami anggota DPR untuk berperilaku terhormat. Itu esensinya,” kata Arteria.

Dicontohkannya, Presiden Joko Widodo saja selalu menyebut “yang terhormat” kepada para pimpinan dan anggota DPR-RI. Sementara komisioner KPK tak sedikit pun menyebut itu.

Saya tambah Arteria, sangat menyayangkan tidak terlihat dialektika kebangsaan yang biasa muncul dalam forum rapat-rapat kenegaraan di DPR.

“Terlihat ada dinding besar bersekat. Terkesan ada kaum sana dan ada kaum sini, bukan sebagai balutan keluarga besar Indonesia Raya,” pungkas Arteria kepada para Komisioner KPK. (OSS/Andri)