Pemkot Bekasi Raih ‘Indonesia Attractiveness 2017’ Kota Terbaik

0
84
Pemkot Bekasi Raih Kota Terbaik

BERITA JAKARTA – Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, memperoleh penghargaan “Indonesia Attractiveness 2017” sebagai pengakuan publik atas daya tarik dan distribusi pembangunan ekonomi di atas rata-rata Kota/Kabupaten lain di Indonesia, Jumat (29/9/2017).

Kota Bekasi masuk dalam peringkat ke-23 dari 152 pemenang Kota/Kabupaten se-Indonesia sebagai Kawasan yang memiliki daya tarik ekonomi daerah versi Tempo Media Grup dan lembaga riset Frontier.

Penghargaan itu diterima langsung Walikota Bekasi Rahmat Effendi beserta jajaran terkaitnya di Hotel Westin, Kuningan, Jakarta Selatan.

Acara tahunan bagi Pemerintah Kota/Kabupaten di 34 Provinsi di Indonesia itu merupakan penilaian atas keberhasilan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan potensi daerah dan kebijakan pengelola pembangunan ekonominya.

Metodologi yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menyisir data-data sekunder dan primer berupa mystery calling, analisis digital dan media sosial dari 508 Kabupaten/Kota.

Pengumpulan data primer dilakukan sejak Mei hingga Juni 2017, sedangkan data sekunder dihimpun sejak awal 2016.

Indikator pertama yang digunakan adalah kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB), indikator kedua adalah pertumbuhan PDRB harus lebih besar dari rata-rata per kapita koridor.

Walikota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan, wilayahnya berhasil meraih kategori Kota terbaik dengan indeks 75,38.

“Pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia tentunya sangat ditentukan oleh kemajuan dan daya saing masing-masing daerah. Daerah yang menarik sebagai tujuan investasi akan memberikan kesempatan besar untuk semakin bertumbuh kembang,” katanya.

Menurut dia, banyaknya investor yang menanamkan investasinya ke berbagai sektor di suatu daerah, berimplikasi pada terciptanya lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah.

Pemerintah Kota Bekasi, kata dia, pada 2017 tengah menargetkan meraih potensi investasi di sejumlah bidang sebesar Rp10 triliun lebih. (Yas/AF)