Terima Uang Rp40 Juta Lurah Jatirahayu ‘Marsinah’ Ingkar Janji

0
496
Lurah Jatirahayu Marsinah

BERITA BEKASI – Surat sengketa tak kunjung terbit, Lurah Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Marsinah dilaporkan ke Walikota Bekasi. Pasalnya, ahli waris mengaku, sudah menyerahkan uang sebesar Rp40 juta sesuai dengan permintaan. Namun sudah berjalan selama delapan bulan surat yang diharapkan ahli waris tersebut tak kunjung diterbitkan.

Pusing menunggu tanpa kepastian, pihak ahli waris, Anis binti Dean, Jayadi Wijaya dan Mardanih pun terpaksa harus meminta bantuan dan menunjuk langsung kuasa hukum BMS Situmorang untuk menyelesaikan persoalannya tersebut.

Diungkapkan, BMS Situmorang mengatakan, para ahli waris jelas memiliki beberapa bukti kuat yang menunjukkan bahwa tanah Girik C No.156 Persil 53 D.II Blok 28 atas nama Dean bin Dekok seluas 10.600 M2 yang berlokasi di Jalan Raya Kecapi RT006/RW013, Kelurahan Jatirahayu, Pondok Melati itu merupakan milik Dean bin Dekok alias Dean bin Misan almarhum.

“Selain didukung beberapa bukti surat kepemilikan dan jelas-jelas tercatat dalam buku Letter C Kelurahan, tanah tersebut dari dahalu sampai sekarang, nyata-nyata dikuasai penuh secara fisik oleh Dean bin Misan serta ahli warisnya dan PBB-nya pun dibayar sampai tahun 2016,” terang Situmorang, Senin (2/10/2017).

Dijelaskannya, sejak bulan Januari 2017 lalu, ahli waris bermaksud untuk mengurus sertifikat tanah tersebut dan untuk memenuhi salah satu persyaratan administratif yang ditentukan Kantor Pertanahan Bekasi, kemudian mereka meminta Lurah Jatirahayu, Marsinah, untuk menandatangani Surat Keterangan dan Surat Pernyataan Penguasaan Fisik Bidang Tanah (Sporadik).

“Permohonan itu sudah disampaikan ahli waris kepada Lurah Jatirahayu Marsinah, baik secara lisan maupun tersurat,” tegas Situmorang.

Namun sambung Situmorang, setelah ahli waris menunggu selama setengah tahun lebih dan sudah menyerahkan sejumlah uang sesui dengan permintaan Lurah Jatirahayu Marsinah, namun hingga kini surat yang diharapkan itu tak kunjung muncul.

“Lurah justru mengaku bahwa dirinya diancam oleh kakak beradik, Boy Rando Simanjuntak dan Ricki Ulung Simanjuntak agar tidak melayani permohonan ahli waris dan kemudian meminta agar ahli waris berdamai dulu dengan kedua orang yang dimaksud itu,” ungkapnya.

Namun ironisnya lanjut Situmorang, saat ahli waris menanyakan apakah kedua orang yang mengancamnya tersebut mengaku sebagai pemilik tanah seluas 10.600 M2 dan menunjukan bukti-bukti kepemilikan, Marsinah justru menjawab tidak ada.

“Oleh karena itu, kami meminta kepada Walikota Bekasi untuk memanggil dan melakukan pemeriksaan terhadap Lurah Jatirahayu, Marsinah, agar dalam tenggat waktu 21 hari kalender terhitung sejak tanggal surat itu sudah diterbitkan,” pungkasnya.

Diketahui, surat pengaduan ahli waris ke Walikota Bekasi itu melalui surat bernomor 095/LO-BMS/IX/2017 tanggal 11 September dengan tembusan diantaranya, kepada Presiden RI di Jakarta dan Camat Pondok Melati.

Disamping mengajukan pengaduan ke Walikota Bekasi, ahli waris pun meminta perlindungan kepada Presiden RI melalui Surat Nomor: Nomor: 097/LO-BMS/IX/2017 tanggal 12 September 2017, perihal permohonan perlindungan dengan tembusan diantaranya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya, Kapolres Metro Bekasi Kota dan Walikota Bekasi. (CR-1/Iwan)