DPR Gelar Rapat Penanganan KLB Campak dan Gizi Buruk di Papua

0
68
Fahri Hamzah

BERITA JAKARTA – Kejadian Luar Biasa wabah Campak dan Gizi Buruk telah terjadi di Kabupaten Asmat sejak September 2017 dan pada akhir Desember 2017 baru diketahui. Awal januari 2018 baru dilakukan penanganan sistem informasi dan pelaporan masalah kesehatan dari daerah ke pemerintah pusat belum berjalan dengan baik.

Oleh karenannya, DPR-RI memandang perlu melaksanakan rapat konsultasi dalam rangka memastikan penanganan bencana dalam mengatasi masalah di Papua pada saat ini, khususnya di Kabupaten Asmat.

“DPR-RI meminta penjelasan kepada pemerintah, sejauh mana langkah yang sudah diambil, dan konsep penyelesaian secara menyeluruh dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang supaya kasus serupa tidak terjadi kembali di Papua, pada masa yang akan datang,” ucap Wakil Ketua DPR-RI, Fahri Hamzah, Kamis (1/2/2018).

Fahri mengatakan, akibat dari bencana tersebut telah merenggut begitu banyak jiwa. Menurut data per 31 Januari, ada 71 orang meninggal dunia sebagai akibat dari Campak dan Gizi Buruk. Jumlah tersebut dimungkinkan bertambah karena situasi yang ada.

“Penanganan wabah Campak dan Gizi Buruk terkendala keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan dan tenaga kesehatan. Hanya ada satu RSUD tipe D dan 16 Puskesmas. Namun dari 16 Puskesmas tersebut, hanya 7 Puskesmas yang memiliki dokter. Jumlah Dokter yang bertugas di Puskesmas sebanyak 12 Dokter Umum dan 1 Dokter Spesialis bedah dari program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan,” paparnya.

KLB Campak juga disebabkan cakupan imunisasi Campak di Kabupaten Asmat yang sangat rendah, sambungnya. Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua dan Papua Barat sejak 2002 hingga 2017 telah mencapai Rp67,1 triliun untuk kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekomnomi rakyat. Selain itu juga terdapat dana infrastruktur yang dialokasikan tersendiri sebesar Rp19,3 triliun, sehingga total mencapai Rp86,4 triliun. 

“Tahun inipun dana otsus cukup besar yaitu Rp5,6 triliun untuk Papua dan Rp2,4 triliun untuk Papua Barat, sehingga total mencapai Rp8 triliun.  Uang tersebut dibagi ke sejumlah Kabupaten/Kota di Papua dan Papua Barat. Namun angka kemiskinan di Papua dan Papua Barat lebih dua kali lipat dari angka kemiskinan nasional. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2016 di Papua sebesar 58,05 dan Papua Barat sebesar 62,21, angka ini masih rendah dibandingkan dengan IPM nasional sebesar 70,18,” ungkap Fahri.

Seperti dikabarkan, bencana Gizi Buruk dan wabah Campak di Asmat dan sebelumnya di Distrik Saminage Kabupaten Yahukimo yang menewaskan 68 orang pada periode Mei sampai Desember 2017, dan di Kabupaten Paniai yang menewaskan 41 bayi pada November 2017 menambah ironi masalah tersebut. (DEP/SC)