Pimpinan Pusat AGRA Kecam Penangkapan Ketua AGRA Kalbar

0
128
AGRA Kalbar

“Polres Mampawah Tangkap Ketua AGRA Kalimantan Barat Tanpa Surat Perintah”

BERITA JAKARTA – Pimpinan pusat serikat tani Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) menyampaikan kecaman atas penangkapan terhadap Ayub Ketua AGRA Ranting Desa Olak – Olak, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan.

Penangkapan paksa itu terjadi pada tanggal 22 Februari 2018 oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai aparat Kepolisian dari Polres Mempawah, Kalimantan Barat.

Berdasarkan informasi yang didapat, Ayub dibawa sekitar pukul 24.00 WIB dari kantor AGRA wilayah Kalimantan Barat yang beralamat Ambawang di Jalan Ampera Raya Komplek Villa Mega Mas No.12 B.

Menurut keterangan Suryadinata yang berada dilokasi penangkapan, pada pukul 24.00 WIB pintu kantor AGRA di ketok seseorang dari luar. Setelah dibuka Suryadinata ternyata yang datang, Junai, Ketua RT Setempat yang ditemani satu orang yang tidak dikenal.

Pada awalnya, Ketua RT menanyakan keberadaan Wahyu, Ketua AGRA wilayah Kalimantan Barat, tetapi karena Wahyu tidak berada di tempat Ketua RT minta untuk masuk bersama satu orang yang tidak dikenal tersebut. 

Mereka, langsung membuka pintu kamar depan dan di dalam kamar ada Ayub yang sedang istirahat. Ketika menemukan Ayub di kamar tiba-tiba masuk kembali 4 orang dan langsung membawa Ayub keluar kantor dimaksukan ke dalam mobil.

Setelah kejadian itu, Suryadinata menghubungi Wahyu bahwa Ayub di bawa oleh 6 orang yang diduga aparat Kepolisian dari Polres Mempawah. Pada pagi hari tanggal 23 Februari, pukul 08.00 WIB, Wahyu mendatangi rumah Ketua RT di Blok B-4 untuk mencari tahu siapa yang membawa Ayub.

Menurut keterangan Ketua RT, Ayub ditangkap Kepolisian Polres Mempawah karena dituduh melakukan pencurian pupuk. Lebih lanjut, Wahyu mempertanyakan apakah pihak Kepolisian datang memberitahukan surat perintah penangkapan? Ketua RT mengaku, tidak diberitahu atau ditunjukan surat perintah penangkapan.

Kesewenang-Wenangan Dan Dugaan Kriminalisasi

Menanggapi hal itu, Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Rahmat, mengecam keras tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan pihak Polres Mempawah terhadap pihak Kepolisian yang melakukan penangkapan tanpa prosedur yang benar dan tanpa adanya surat penangkapan.

“Tindakan Polres Mempawah jelas melanggar hukum dengan menangkap paksa Ayub tanpa surat penangkapan. Hingga saat ini, tidak ada surat penangkapan yang di terima oleh pengurus AGRA, Kuasa Hukum dan pihak keluarga. Bahkan, upaya Kuasa Hukum untuk menemui Ayub pun tidak di penuhi oleh pihak Kepolisian,” terangnya, Minggu (25/2/2018).

Selain itu, Rahmat menambahkan, tuduhan pencurian pupuk yang dialamatkan kepada Ayub tanpa ada bukti yang kuat, diduga mengarah pada upaya kriminalisasi terhadap pimpinan organisasi tani yang sedang memperjuangkan hak atas tanah yang di rampas oleh perusahaan perkebunan sawit.

Dalam rilisnya, AGRA menyampaikan bahwa tindakan penangkapan terhadap warga Olak-Olak kerap terjadi seiring meningkatnya perjuangan rakyat melawan perampasan tanah yang dilakukan PT. Sintang Raya dan PT. Cipta Tumbuh Berkembang (PT.CTB).

Berulang kali, warga Olak-Olak dan juga organisasi tani termasuk AGRA menyampaikan kecaman terhadap Kepolisian yang terlibat dalam tindak kekerasan, intimidasi dan kriminalisasi terhadap rakyat. Bahkan AGRA bersama dengan puluhan organisasi lainnya pada bulan Agustus 2016 sempat melakukan aksi protes di depan Mabes Polri dan Istana Negara di Jakarta untuk menghentikan tindak kriminalisasi di Olak-Olak, Kubu Raya – Kalimantan Barat.

Perkembangan Pasca Penangkapan

Hingga Jum’at 23 Februari sore, Ayub belum bisa ditemui oleh pihak Kuasa Hukum dan pengurus AGRA Kalimantan Barat. Upaya Kuasa Hukum untuk memastikan keberadaan dan kondisi Ayub dengan mendatangi Polres Mempawah tidak dikabulkan pihak Kepolisian.

Penjaga piket Polres Mempawah menyampaikan agar menghubungi penyidik Norman dan Patra, namun setelah di hubungi, pihak penyidik melemparkan kembali untuk meminta izin kepada yang bertugas (piket). Kuasa hukum juga kembali menghubungi penyidik Patra namun nomor kontak penyidik tidak dapat dihubungi. 

Hingga Berita ini di turunkan keluarga Ayub pun juga belum diberitahu oleh pihak Kepolisian perihal penangkapan paksa terhadap Ayub.

AGRA juga menyampaikan tuntutan agar Ayub dibebaskan tanpa syarat serta dipulihkan nama baiknya atas tuduhan kriminal yang tidak beralasan. Selain itu AGRA mendesak kepada Kepolisian untuk menghentikan kriminalisasi terhadap warga Olak-Olak yang berjuang mempertahankan hak atas tanahnya yang dirampas. (CR-1)