Kementerian LHK: 114 Ribu DAS Harus Dipulihkan, 108 Kritis

0
58

BERITA JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengemukakakan, akhir-akhir ini Indonesia semakin sering dilanda bencana, dimana 80 persen dianataranya, bencana Hedrometeorlogi, seperti banjir, kekeringan, banjir bandang, serta tanah longsor.

“Tiap tahun bencana ini terus meningkat, kondisi ini menandakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia sudah banyak yang kriti, yang jumlahnya tiap tahun juga meningkat,” terang Direktur Pengelolaan dan Penyediaan Informasi Kementerian LHK, Siti Meiningsih pada Forum Tematik Bakohumas di Ruang Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (12/11/2018) pagi.

Berdasarkan data dari Kementerian LHK 2018, menurut Siti, dari total 17 ribu DAS yang ada di Indonesia sebanyak 114 ribu diantaranya harus dipulihkan, diantaranya termasuk 108 DAS dalam posisi kritis.

Dalam RPJM 2015 – 2019, lanjut Direktur Pengelolaan dan Penyediaan Informasi Kementerian LHK itu, Pemerintah memprioritaskan memulihkan 15 DAS dari 108 DAS yang kritis itu.

Ke-15 DAS yang diprioritaskan itu yakni, DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, Serayu, Bengawan Solo, Brantas, Asahan Toba, Siak, Musi, Waisekampu, Waiseputi, Moyo, Kapuas, Jenebberang dan Sapdana.

“Litbang Kementerian LHK menyadari kompleksnya dampak dari dehidrasi lahan ini dan luas lahan kritis  di indonesia yang diperkirakan 11,24 juta ha,” jelas Siti.

Ia menegaskan, Pemerintah perlu memulihkan DAS sejalan dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomot 37  Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS.

“Pemulihan DAS tidak hanya membangun infrastruktur tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mengelola DAS,” tegas Siti.

Kerugian 400 Juta Dollar

Sebelumnya Direktur Pengelolaan dan Penyediaan Informasi Kementerian LHK Siti Meiningsih menjelaskan, kerugian ekonomi akibat erosi di Pulau Jawa saja, sejak tahun 2005 lalu telah mencapai sebesar 400 juta dollar AS per tahun.

Ia menyebutkan, meskipun total kuantitas air seluruh pulau di Indonesia terjadi surplus sebersar 449,05 juta meter, sebagaimana disampaikan Bappenas 2015. Namun untuk Jawa dan Bali terjadi defisit sebesar 100 miliar meter dan di Nusa Tenggara mengalami defisit sebesar 2,3 miliar meter.

“Hal ini menyebabkan  jumlah orang yang beresiko berdampak bencan Hydrometerorology akan meningkat dari 1,2 miliar saat ini ke 1,6 miliar pada tahun 2018,” ungkap Siti.

Forum tematik Bakohumas yang mengangkat tema “Pemulihan Daerah Alisan Sungai”itu dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian LH Bambang Hendroyono, Humas Kementerian LHK Ir. Djati Widjaksono Hadi, dan Dirjen Pengendalian DAS Kementerian LHK Ida Bagus Putra Prathama. (HEN/ES)