Era Milenial, Guru Jangan Mengajar Materi Namun Juga Tata Krama

0
19

BERITA SEMARANG – Untuk mengatasi kekurangan guru PNS, maka guru tidak tetap (GTT) punya peran yang besar dalam mendidik anak didik. Oleh karena peran dan tanggung jawabnya itu, Pemrpov Jateng memperhatikan kesejahteraannya. Dimana sedikitnya 14.000 GTT SMA, SMK dan SLB di Jateng mendapat insentif setara dengan upah minimal kota (UMK).

Demikian disampaikan Ketua DPRD Jateng, Rukma Setiyabudi saat diskusi Prime Topic Trijaya FM yang bertema ‘Tantangan Pendidik di Era Milenial’ yang digelar di Gets Hotel Semarang, Selasa (27/11/2018).

Selain insentif bulanan setara dengan UMK, kata Rukma, mereka juga mendapat 10 persen dari UMK sebagai tambahan untuk kesejahteraannya. “Ada sekitar 14.000 lebih GTT SMA, SMK, dan SLB di Jateng. Kami menganggarkan dari APBD,” jelas Rukma.

Menurutnya, kebijakan tersebut adalah komitmen Pemprov Jateng terhadap pendidikan. Anggaran tersebut bagian dari 20 persen dari APBD, yang dipatok untuk bidang pendidikan. “Dari Rp 25 Triliun, 20 persennya, sudah dianggarkan untuk pendidikan tahun 2018 ini,” tandasnya.

Dikatakannya bahwa tidak semua Provinsi bisa melakukan hal itu, terkait dengan insentif setara UMK bagi GTT. ”Jateng sebagai pelopor. Kami juga menghimbau, agar Pemkot dan Pemkab di Jateng juga melakukan hal yang sama, memberi perhatian bagi GTT, pada jenjang sekolah yang jadi wewenangnya, yakni, SMP, SD dan TK,” kata Rukma.

Diharapkan guru di era milenial mampu memberi pengajaran dan pendidikan yang baik bagi anak didiknya. ”Di era milenial saat ini guru jangan hanya mengajar materi saja. Namun juga mendidik anak, dari lini sosial, pergaulan, tata krama, dan agama, sehingga siswa punya ahlak yang bagus,” lanjutnya.

Kepala Pembinaan SMK, Dinas P dan K Jateng, Dr Hari Wuljanto yang juga menjadi narasumber mengakui, bahwa Jateng saat ini masih kekurangan guru untuk semua jenjang, oleh karenanya GTT punya andil yang besar dalam membantu proses pendidikan anak didik. 

Di satu sisi, baik itu guru PNS atau GTT harus bisa membina anak didik untuk memiliki budi pekerti yang baik. Ini mengingat era revolusi industri 4,0 dimana era digitalisasi, anak didik butuh perhatian lebih. ”Termasuk bagaimana memberi arahan, dalam penggunaan media sosial agar tidak berdampak buruk,” pungkas dia. (Nining)

 

Biro Semarang