BAPPEDA Kota Bekasi: Bangun Kesadaran Moral Masyarakat Penerima Bantuan

0
11

BERITA BEKASI – Pekerja Sosial Kota Bekasi yang terdiri dari Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan Supervisor PKH berkesempatan tatap muka dan berdialog bersama BAPPEDA Kota Bekasi, Rabu (23/1/2019).

Dalam kesempatan itu, Sekretaris BAPPEDA dan Kabid Pembangunan Manusia dan Masyarakat memberikan Arahan sekaliguus menerima aspirasi tentang berbagai formulasi pengentasan kemiskinan. Pertemuan ini juga membahas sekilas tentang isi buku Mengobati Luka Peradaban karya Mega saputra, yang juga pendamping PKH di Kecamatan Mustika Jaya.

“yang terpenting sekarang, adalah kita harus mengerti dan memilki standar Tipologi kemiskinan berbasis keadaan Lokal daerah, pendekatan dan intervensi masyarakat urban seperti Bekasi tentu sangat berbeda dengan masyarakat rural di pedesaan,” terang Sekretaris BAPPEDA, Eka Hidayat.

Dikatakan Eka, bukan sekadar pendekatan Community Based Development yang sudah rekan-rekan pekerja sosial gunakan, tapi juga yang terpenting adalah pendekatan sosiologis dan moral agar masyarakat penerima bantuan memiliki kesadaran moral untuk keluar dari belenggu kemiskinan dan kita benar-benar mengentaskan kemiskinan bukan menetaskan kemiskinan.

“Kami punya komitmen yang komprehensif untuk mengentaskan kemiskinan dan kami sudah menyusun rencana penanggulangan kemiskinan untuk Kota Bekasi, silahkan teman-teman baca dahulu dan akan sangat terbuka untuk kita diskusikan lebih lanjut demi tercapainya cita-cita kesejahteraan di Kota Bekasi,” sambut Satia Kabid PMM BAPPEDA.

Sementara itu, SPV PKH Kota Bekasi, Ena Rodiah menyampaikan bahwa kita juga sedang rencakan Forum Group Discussion (FGD) di tingkatan pekerja sosial juga di tingkat akar rumput masyarakat itu sendiri untuk menghasilkan konsensus tentang standar dan tipologi masyarakat miskin di Kota Bekasi.

“Kami sedang gencar melakukan program Family Development Session (FDS) yang membahas tema-tema pendidikan, pengasuhan, ekonomi dan lain-lain yang mendorong lahirnya kesadaran kritis keluarga penerima manfaat ditambah kita juga sedang melakukan agenda graduasi mandiri dimana penerima bantuan menyatakan kesiapannya keluar dari program bantuan karena telah mampu dan mandiri seperi suksesnya berjualan, mendapatkan pekerja lain,” tambahnya.

“Di dalam buku ini saya gambarkan dua karakteristik kemiskinan, yakni kultural dan struktural, untuk menyelesaikan itu semua, usaha yang dapat kita lakukan adalah melandasi berbagai program pengentasan kemiskinan pada konsep People Driven dimana masyarakat itu sendiri secara sadar menjadi subjek sekaligus aktor dari pengentasan kemiskinan itu sendiri,” pungkas Mega Saputra menambahkan. (Edo)